Teori Van Djik
Analisis Sosial
Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah struktur dari teks. Van Djik memanfaatkan dan mengambil analisis linguistik tentang kosakata, kalimat, proposisi dan paragraf untuk menjelaskan dan memaknai suatu teks. Kognisi sosial merupakan dimensi untuk menjelaskan bagaimana suatu teks diproduksi oleh individu/ kelompok pembuat teks. Sedangkan analisis sosial melihat bagaimana teks itu dihubungkan lebih jauh dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat atas suatu wacana. Ketiga dimensi ini dilakukan secara bersama-sama dalam analisis Van Djik. (Eriyanto,2012:225).
Teks
Van Djik melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro yaitu makna umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan. Kedua, superstruktur yaitu struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks. Ketiga, struktur mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase dan gambar.
Tematik
Elemen tematik menunjuk pada gambaran umum dari suatu teks. Topik menggambarkan apa yang ingin diungkapkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Topik menunjukkan konsep dominan, sentral, dan paling penting dari isi suatu berita. Gagasan penting Van Djik, wacana umumnya dibentuk dalam tata aturan umum (macrorule). Teks tidak hanya didefinisikan mencerminkan suatu pandangan tertentu atau topik tertentu, tetapi suatu pandangan umum yang koheren.
Skematik
Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sesuai hingga membentuk kesatuan arti.
Latar
Latar merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi semantik(arti) yang ingin disampaikan. Latar umumnya ditampilkan di awal sebelum pendapat wartawan yang sebenarnya muncul dengan maksud mempengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat wartawan sangat beralasan. Latar dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks.
Detil
Elemen wacana detil berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang. Elemen detil merupakan strategi bagaimana wartawan mengekpresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Sikap atau wacana yang dikembangkan oleh wartawan kadangkala tidak perlu disampaikan secara terbuka, tetapi dari detil bagaimana yang dikembangkan dan mana yang diberitakan dengan detil yang besar, akan menggambarkan bagaimana wacana yang dikembangkan oleh media.
Maksud
Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas. Dalam konteks media, elemen maksud menunjukkan bagaimana secara implisit dan tersembunyi wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan basis kebenarannya dan secara implisit pula menyingkirkan versi kebenaran lain.
Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Koherensi memberi kesan kepada khalayak bagaimana dua fakta diabstraksikan dan dihubungkan. Koherensi merupakan elemen yang menggambarkan bagaimana peristiwa dihubungkan atau dipandang saling terpisah oleh wartawan.
Koherensi kondisional
Koherensi kondisional di antaranya ditandai dengan ppemakaian anak kalimat sebagai penjelas. Koherensi ini dalam banyak hal sering kali menggambarkan kepada kita bagaimana sikap wartawan atas peristiwa, kelompok atau seseorang yang ditulis. Bagaimana sikap tersebut dilekatkan dan tanpa disadari menggiring pembaca pada pemahaman atau pemaknaan tertentu.
Koherensi pembeda
Koherensi pembeda berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa atau fakta itu hendak dibedakan.
Pengingkaran
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagaimana wartawan menyembunyikan apa yang ingin diekspresikan secara implisit. Pengingkaran adalah sebuah elemen dimana kita bisa membongkar sikap atau ekspresi wartawan yang disampaikan secara tersembunyi.
Bentuk kalimat
Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas.
Kata ganti
Elemen kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukkan di mana posisi seseorang dalam wacana.
Leksikon
Pada dasarnya elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia.
Praanggapan
Elemen wacana praangappan (presupposition) merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Praanggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan presim yang dipercaya kebenarannya. Praanggapan ini merupakan fakta yang belum terbukti kebenarannya, tetapi dijadikan dasar untuk mendukung gagasan tertentu.
Grafis
Elemen ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Dalam wacana berita, grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. elemen grafis itu juga muncul dalam bentuk foto, gambar, atau tabel untuk mendukung gagasan atau untuk bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan.
Metafora
Dalam suatu wacana, seseorang wartawan tidak hanya menyampaikan pesan pokok lewat teks, tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora yang dimaksudkan sebagai ornamen atau bumbu dari suatu berita.
Kognisi Sosial
Dalam pandangan Van Djik, analisis wacana tidk dibatasi hanya pada struktur teks, karena struktur wacana itu sendiri menunjukkan atau menandakan sejumlah makna, pendapat, dan ideologi. Bagaimana peristiwa dipahami dan dimengerti didasarkan pada skema. Van Djik menyebut skema ini sebagai model. Skema dikonseptualisasikan sebagai struktur mental di mana tercakup di dalamnya bagaimana kita memandang manusia, peranan sosial, dan peristiwa. Menurut Van Djik, analisis wacana harus menyertakan bagaimana reproduksi kepercayaan yang menjadi landasan bagaimana wartawan menciptakan suatu teks berita tertentu. Ada beberapa skema atau model:
Skema person
Skema ini menggambarkan bagaimana seseorang menggambarkan dan memandang orang lain. bagaimana seseorang wartawan islam, misalnya, memandang dan memahami orang kristen yang kemungkinan besar akan berpengaruh terhadap berita yang akan dia tulis.
Skema diri
Skema ini berhubungan dengan bagaimana diri sendiri dipandang, dipahami, dan digambarkan oleh seseorang.
Skema peran
Skema ini berhubungan dengan bagaimana seseorang memandang dan menggambarkan peranan dan posisi yang ditempati seseorang dalam masyarakat.
Skema peristiwa
Skema ini barangkali yang paling banyak dipakai, karena hampir tiap hari kita selalu melihat, mendengar peristiwa yang lalu lalang. Dan setiap peristiwa selalu kita tafsirkan dan maknai dalam skema tertentu. Umumnya, skema peristiwa inilai yang paling banyak dipakai oleh wartawan.
Salah satu elemen yang sangat penting dalam proses kognisi sosial selain model adalah memori. Lewat memori kita bisa berpikir tentang sesuatu dan mempunyai pengetahuan tentang sesuatu pula.
Kognisi sosial dan produksi berita
Dalam pandangan Van Djik, kognisi sosial terutama dihubungkan dengan proses produksi berita. Wacana berita di sini tidak hanya dpahami dalam pengertian sejumlah struktur tetapi juga bagian dari proses komunikasi yang kompleks. Menurut Van Djik titik kunci dalam memahami produksi berita adalah dengan meneliti proses terbentuknya teks. Teks diproduksi dalam suatu proses mental yang melibatkan strategi tertentu seperti seleksi, reproduksi, penyimpulan dan transformasi.
Analisis Sosial
Dimensi ketiga dari analisis Van Djik adalah analisis sosial. Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam masyarakat, sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis intertekstual dengan meneliti bagaimana wacana tentang suatu hal diproduksi dan dikonstruksi dalam masyarakat. Menurut Van Djik, dalam analisis mengenai masyarakat ini, ada dua poin yang penting : kekuasaan dan akses.
Praktik kekuasaan
Van Djik mendefinisikan kekuasaan tersebut sebagai kepemilikan yang dimiliki oleh suatu kelompok (atau anggotanya), satu kelompok untuk mengontrol kelompok(atau anggota) dari kelompok lain. kekuasaan ini umumnya didasarkan pada kepemilikan atas sumber-sumber yang bernilai, seperti uang, status, dan pengetahuan.
Akses mempengaruhi wacana
Analisis Van Djik, memberi perhatian yang besar pada akses, bagaimana akses di antara masing-masing kelompok dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Dr. , M.Pd. Handout Mata Kuliah Analisis Wacana.
Hamad, Ibnu. tt. Perkembangan Analisis Wacana dalam Ilmu Komunikasi: Sebuah Telaah Ringkas. http://google.com. Diakses 16/05/15.
Rosidi, Imron. 2009. Analisis Wacana. http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/06/kajian-bahasa-26.html. Diakses 16/05/15.
http://syahrishareswithu.blogspot.com/2011/12/analisis-wacana-kritis-model-van-dijk.html diakses 16/05/15.
Minggu, 21 Juni 2015
Model Norman Fairclough
Model Norman Fairclough
Karakteristik Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi. Mengutip Fairclough dan Wodak (Badara, 2012:29), analisis wacana kritis menyelidiki bagaimana penggunaan bahasa kelompok sosial yang ada saling bertarung dan mengajukan versinya masing-masing. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis yang disarikannya oleh Eriyanto dari tulisan Van Dijk, Fairclough, dan Wodak:
Tindakan
Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan. Dengan pemahaman semacam itu wacana diasosiasikan sebagai bentuk interaksi. Wacana bukan ditempatkan seperti dalam ruang tertutup dan internal. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk memengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya.
Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Merujuk pada pandangan Cook (Badara, 2012:30), analisis wacana juga memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk setiap masing-masing. Studi mengenai bahasa di sini memasukkan konteks, karena bahasa selalu berada dalam konteks dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisipan, interteks, situasi, dan sebagainya.
Histori
Menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu berarti wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya. Salah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti suatu teks ialah dnegan menempatkan wacana tersebut dalam konteks historis tertentu.
Ideologi
Ideologi memiliki dua pengertian yang bertolak belakang. Secara positif, ideologi dipersepsi sebagai suatu pandangan dunia yang menyatakan nilai kelompok sosial tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka. Adapun secara negatif, ideologi dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu suatu kebutuhan untuk melakukan penipuan dengan cara memutarbalikkan pemahaman orang mengenai realitas sosial. Sebuah teks tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi.
Analisis Wacana Kritis (AWK) Model Norman Fairclough
Norman Fairclough (Badara, 2012:26) mengemukakan bahwa wacana merupakan sebuah praktik sosial dan membagi analisis wacana ke dalam tiga dimensi yaitu text, discourse practice, dan sosial practice. Text berhubungan dengan linguistik, misalnya dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat, juga koherensi dan kohesivitas, serta bagaimana antarsatuan tersebut membentuk suatu pengetian. Discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks; misalnya, pola kerja, bagan kerja, dan rutinitas saat menghasilkan berita. Social practice, dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks; misalnya konteks situasi atau konteks dari media dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya politik tertentu.
Model Norman Fairclough (Eriyanto, 2001: 286) membagi analisis wacana kritis ke dalam tiga dimensi, yakni:
Dimensi Tekstual (Mikrostruktural)
Setiap teks secara bersamaan memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, relasi, dan identitas. Fungsi representasi berkaitan dengan cara-cara yang dilakukan untuk menampilkan realitas sosial ke dalam bentuk teks. Analisis dimensi teks meliputi bentuk-bentuk tradisional analisis linguistik – analisis kosa kata dan semantik, tata bahasa kalimat dan unit-unit lebih kecil, dan sistem suara (fonologi) dan sistem tulisan. Analisis yaitu kohesi dan koherensi, tata bahasa dan diksi.
Dimensi Kewacanan (Mesostruktural)
Dimensi kedua yang dalam kerangka analisis wacana kritis Norman Fairclough ialah dimensi kewacanaan (discourse practice). Dalam analisis dimensi ini, penafsiran dilakukan terhadap pemrosesan wacana yang meliputi aspek penghasilan, penyebaran, dan penggunaan teks. Dari kewacanaan dapat dilihat dari:
Produksi Teks
Pada tahap ini dianalisis pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi teks itu sendiri (siapa yang memproduksi teks). Analisis dilakukan terhadap pihak pada level terkecil hingga bahkan dapat juga pada level kelembagaan pemilik modal.
Penyebaran Teks
Pada tahap ini dianalisis bagaimana dan media apa yang digunakan dalam penyebaran teks yang diproduksi sebelumnya. Apakah menggunakan media cetak atau elektronik, apakah media cetak koran, dan lain-lain. Perbedaan ini perlu dikaji karena memberikan dampak yang berbeda pada efek wacana itu sendiri mengingat setiap media memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Konsumsi Teks
Dianalisis pihak-pihak yang menjadi sasaran penerima/pengonsumsi teks. Contoh pada kasus wacana media perlu dilakukan analisis yang mendalam mengenai siapa saja pengonsumsi media itu sendiri. setiap media pada umumnya telah menentukan “pangsa pasar”nya masing-masing.
Dimensi Praktis Sosial-Budaya (Makrostruktural)
Dimensi ketiga adalah analisis praktik sosiobudaya media dalam analisis wacana kritis Norman Fairclough merupakan analisis tingkat makro yang didasarkan pada pendapat bahwa konteks sosial yang ada di luar media sesungguhnya memengaruhi bagaimana wacana yang ada ada dalam media. Ruang redaksi atau wartawan bukanlah bidang atau ruang kosong yang steril, tetapi juga sangat ditentukan oleh faktor-faktor di luar media itu sendiri. Praktik sosial-budaya menganalisis tiga hal yaitu ekonomi, politik (khususnya berkaitan dengan isu-isu kekuasaan dan ideologi) dan budaya (khususnya berkaitan dengan nilai dan identitas) yang juga mempengaruhi istitusi media, dan wacananya. Pembahasan praktik sosial budaya meliputi tiga tingkatan Tingkat situasional, berkaitan dengan produksi dan konteks situasinya Tingkat institusional, berkaitan dengan pengaruh institusi secara internal maupun eksternal. Tingkat sosial, berkaitan dengan situasi yang lebih makro, seperti sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem budaya masyarakat secara keseluruhan. Tiga level analisis sosiocultural practice ini antara lain:
Situasional
Setiap teks yang lahir pada umumnya lahir pada sebuah kondisi (lebih mengacu pada waktu) atau suasana khas dan unik. Atau dengan kata lain, aspek situasional lebih melihat konteks peristiwa yang terjadi saat berita dimuat.
Institusional
Level ini melihat bagaimana persisnya sebuah pengaruh dari institusi organisasi pada praktik ketika sebuah wacana diproduksi. Institusi ini bisa berasal dari kekuatan institusional aparat dan pemerintah juga bisa dijadikan salah satu hal yang mempengaruhi isi sebuah teks.
Sosial
Aspek sosial melihat lebih pada aspek mikro seperti sistem ekonomi, sistem politik, atau sistem budaya masyarakat keseluruhan. Dengan demikian, melalui analisis wacana model ini, kita dapat mengetahui inti sebuah teks dengan membongkar teks tersebut sampai ke hal-hal yang mendalam. Ternyata, sebuah teks pun mengandung ideologi tertentu yang dititipkan penulisnya agar masyarakat dapat mengikuti alur keinginan penulis teks tersebut.
Gerindra Target Menang di Mayoritas Daerah
JAKARTA-Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015. Dengan modal sebagai partai peraih suara terbanyak ketiga pemilu 2014 dan tidak terbelenggu konflik internal, Partai Gerindra memasang target untuk bias memenangkan sebanyak-banyaknya daerah yang mendpat jatah pilkada serentak pada Desember 2015.
“ Untuk keseluruhan, kita targetkan bias menangkan pilkada tahun ini,” kata Sekertaris Jendral DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada wartawan kemarin (10/4).
Menurut Muzani, target itu merupakan salah satu keputusan rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Gerindra yang berlangsung 8 April lalu. Muzani menilai, kesuksesan Partai Gerindra pada pemilu 2014 sejatinya lebnih banyak karena kontribusi kader. Karena itu, tidak ada salahnya para kader kembali dioptimalkan demi memeperkuat posisi Gerindra di kancah politik daerah.
“ Pilkada ini bagian dari proses konsolidasi menuju (pemilu nasional) 2019. Kita ingin jumlah kursi yang makin signifikan supaya keberadaan partai makin bias dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Analisis wacana model Norman Fairclough
Teks
Struktur makro
Tema : Gerindra Target Menang di Mayoritas Daerah
Bukti : Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015.
Pembahasan: partai Gerindra mentargetkan pada tahun ini ia kana bisa memengankan dalam pilkada.
Super struktur
Pendahuluan
Bukti : Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015. Dengan modal sebagai partai peraih suara terbanyak ketiga pemilu 2014 dan tidak terbelenggu konflik internal, Partai Gerindra memasang target untuk bias memenangkan sebanyak-banyaknya daerah yang mendpat jatah pilkada serentak pada Desember 2015.
Pembahasan: partai Gerindra optimistis akan meraih suara terbanyak pada tahun 2015. Karena kemarin di pemilihan 2014 ia memduduki tingkat ketiga.
Isi
Bukti: “ Untuk keseluruhan, kita targetkan bias menangkan pilkada tahun ini,” kata Sekertaris Jendral DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada wartawan kemarin (10/4).
Pembahasan : Ahmad Muzani menyampaikan bahwa ia optimistis bisa memenagnkan pilkada pada tahun 2015 dengan dibanatu kader-kader maka ia semakin optimistis untuk menang.
Penutup
Bukti : Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Pembahasan : dalam pemilihan ini kader yang terbaik nanti akan dicalonkan sebagai kepala daerah,
Struktur mikro
Akan
Bukti : Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Pembahasan : akan disini sesuatu yang akn terjadi bahwa Gerindra berencana bila kader yang terbaik akan dicalonkan sebgai kepala daerah serta kapabilitas dan aksetabilitas yang akan menjadi pertiimbangannya.
Kondisi sosial
Jika dilihat bahwa kondisi sosial masyarakat partai Gerindra akan menang dengan adanya dukungan dari kader serta dengan peringkat ketiga pada peilihan tahun 2014 kemarin.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Dr. , M.Pd. Handout Mata Kuliah Analisis Wacana.
Hamad, Ibnu. tt. Perkembangan Analisis Wacana dalam Ilmu Komunikasi: Sebuah Telaah Ringkas. http://google.com. Diakses 16/05/15.
Rosidi, Imron. 2009. Analisis Wacana. http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/06/kajian-bahasa-26.html. Diakses 16/05/15.
http://syahrishareswithu.blogspot.com/2011/12/analisis-wacana-kritis-model-van-dijk.html diakses 16/05/15.
Karakteristik Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi. Mengutip Fairclough dan Wodak (Badara, 2012:29), analisis wacana kritis menyelidiki bagaimana penggunaan bahasa kelompok sosial yang ada saling bertarung dan mengajukan versinya masing-masing. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis yang disarikannya oleh Eriyanto dari tulisan Van Dijk, Fairclough, dan Wodak:
Tindakan
Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan. Dengan pemahaman semacam itu wacana diasosiasikan sebagai bentuk interaksi. Wacana bukan ditempatkan seperti dalam ruang tertutup dan internal. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk memengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya.
Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana dalam hal ini diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Merujuk pada pandangan Cook (Badara, 2012:30), analisis wacana juga memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk setiap masing-masing. Studi mengenai bahasa di sini memasukkan konteks, karena bahasa selalu berada dalam konteks dan tidak ada tindakan komunikasi tanpa partisipan, interteks, situasi, dan sebagainya.
Histori
Menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu berarti wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya. Salah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti suatu teks ialah dnegan menempatkan wacana tersebut dalam konteks historis tertentu.
Ideologi
Ideologi memiliki dua pengertian yang bertolak belakang. Secara positif, ideologi dipersepsi sebagai suatu pandangan dunia yang menyatakan nilai kelompok sosial tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka. Adapun secara negatif, ideologi dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu suatu kebutuhan untuk melakukan penipuan dengan cara memutarbalikkan pemahaman orang mengenai realitas sosial. Sebuah teks tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi.
Analisis Wacana Kritis (AWK) Model Norman Fairclough
Norman Fairclough (Badara, 2012:26) mengemukakan bahwa wacana merupakan sebuah praktik sosial dan membagi analisis wacana ke dalam tiga dimensi yaitu text, discourse practice, dan sosial practice. Text berhubungan dengan linguistik, misalnya dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat, juga koherensi dan kohesivitas, serta bagaimana antarsatuan tersebut membentuk suatu pengetian. Discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks; misalnya, pola kerja, bagan kerja, dan rutinitas saat menghasilkan berita. Social practice, dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks; misalnya konteks situasi atau konteks dari media dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya politik tertentu.
Model Norman Fairclough (Eriyanto, 2001: 286) membagi analisis wacana kritis ke dalam tiga dimensi, yakni:
Dimensi Tekstual (Mikrostruktural)
Setiap teks secara bersamaan memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, relasi, dan identitas. Fungsi representasi berkaitan dengan cara-cara yang dilakukan untuk menampilkan realitas sosial ke dalam bentuk teks. Analisis dimensi teks meliputi bentuk-bentuk tradisional analisis linguistik – analisis kosa kata dan semantik, tata bahasa kalimat dan unit-unit lebih kecil, dan sistem suara (fonologi) dan sistem tulisan. Analisis yaitu kohesi dan koherensi, tata bahasa dan diksi.
Dimensi Kewacanan (Mesostruktural)
Dimensi kedua yang dalam kerangka analisis wacana kritis Norman Fairclough ialah dimensi kewacanaan (discourse practice). Dalam analisis dimensi ini, penafsiran dilakukan terhadap pemrosesan wacana yang meliputi aspek penghasilan, penyebaran, dan penggunaan teks. Dari kewacanaan dapat dilihat dari:
Produksi Teks
Pada tahap ini dianalisis pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi teks itu sendiri (siapa yang memproduksi teks). Analisis dilakukan terhadap pihak pada level terkecil hingga bahkan dapat juga pada level kelembagaan pemilik modal.
Penyebaran Teks
Pada tahap ini dianalisis bagaimana dan media apa yang digunakan dalam penyebaran teks yang diproduksi sebelumnya. Apakah menggunakan media cetak atau elektronik, apakah media cetak koran, dan lain-lain. Perbedaan ini perlu dikaji karena memberikan dampak yang berbeda pada efek wacana itu sendiri mengingat setiap media memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Konsumsi Teks
Dianalisis pihak-pihak yang menjadi sasaran penerima/pengonsumsi teks. Contoh pada kasus wacana media perlu dilakukan analisis yang mendalam mengenai siapa saja pengonsumsi media itu sendiri. setiap media pada umumnya telah menentukan “pangsa pasar”nya masing-masing.
Dimensi Praktis Sosial-Budaya (Makrostruktural)
Dimensi ketiga adalah analisis praktik sosiobudaya media dalam analisis wacana kritis Norman Fairclough merupakan analisis tingkat makro yang didasarkan pada pendapat bahwa konteks sosial yang ada di luar media sesungguhnya memengaruhi bagaimana wacana yang ada ada dalam media. Ruang redaksi atau wartawan bukanlah bidang atau ruang kosong yang steril, tetapi juga sangat ditentukan oleh faktor-faktor di luar media itu sendiri. Praktik sosial-budaya menganalisis tiga hal yaitu ekonomi, politik (khususnya berkaitan dengan isu-isu kekuasaan dan ideologi) dan budaya (khususnya berkaitan dengan nilai dan identitas) yang juga mempengaruhi istitusi media, dan wacananya. Pembahasan praktik sosial budaya meliputi tiga tingkatan Tingkat situasional, berkaitan dengan produksi dan konteks situasinya Tingkat institusional, berkaitan dengan pengaruh institusi secara internal maupun eksternal. Tingkat sosial, berkaitan dengan situasi yang lebih makro, seperti sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem budaya masyarakat secara keseluruhan. Tiga level analisis sosiocultural practice ini antara lain:
Situasional
Setiap teks yang lahir pada umumnya lahir pada sebuah kondisi (lebih mengacu pada waktu) atau suasana khas dan unik. Atau dengan kata lain, aspek situasional lebih melihat konteks peristiwa yang terjadi saat berita dimuat.
Institusional
Level ini melihat bagaimana persisnya sebuah pengaruh dari institusi organisasi pada praktik ketika sebuah wacana diproduksi. Institusi ini bisa berasal dari kekuatan institusional aparat dan pemerintah juga bisa dijadikan salah satu hal yang mempengaruhi isi sebuah teks.
Sosial
Aspek sosial melihat lebih pada aspek mikro seperti sistem ekonomi, sistem politik, atau sistem budaya masyarakat keseluruhan. Dengan demikian, melalui analisis wacana model ini, kita dapat mengetahui inti sebuah teks dengan membongkar teks tersebut sampai ke hal-hal yang mendalam. Ternyata, sebuah teks pun mengandung ideologi tertentu yang dititipkan penulisnya agar masyarakat dapat mengikuti alur keinginan penulis teks tersebut.
Gerindra Target Menang di Mayoritas Daerah
JAKARTA-Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015. Dengan modal sebagai partai peraih suara terbanyak ketiga pemilu 2014 dan tidak terbelenggu konflik internal, Partai Gerindra memasang target untuk bias memenangkan sebanyak-banyaknya daerah yang mendpat jatah pilkada serentak pada Desember 2015.
“ Untuk keseluruhan, kita targetkan bias menangkan pilkada tahun ini,” kata Sekertaris Jendral DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada wartawan kemarin (10/4).
Menurut Muzani, target itu merupakan salah satu keputusan rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Gerindra yang berlangsung 8 April lalu. Muzani menilai, kesuksesan Partai Gerindra pada pemilu 2014 sejatinya lebnih banyak karena kontribusi kader. Karena itu, tidak ada salahnya para kader kembali dioptimalkan demi memeperkuat posisi Gerindra di kancah politik daerah.
“ Pilkada ini bagian dari proses konsolidasi menuju (pemilu nasional) 2019. Kita ingin jumlah kursi yang makin signifikan supaya keberadaan partai makin bias dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Analisis wacana model Norman Fairclough
Teks
Struktur makro
Tema : Gerindra Target Menang di Mayoritas Daerah
Bukti : Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015.
Pembahasan: partai Gerindra mentargetkan pada tahun ini ia kana bisa memengankan dalam pilkada.
Super struktur
Pendahuluan
Bukti : Partai Gerakan Indonesia Raya memiliki optimism tinggi meraih hasil maksimal dalam ajang pemilihan kepala darah (pilkada) serentak 2015. Dengan modal sebagai partai peraih suara terbanyak ketiga pemilu 2014 dan tidak terbelenggu konflik internal, Partai Gerindra memasang target untuk bias memenangkan sebanyak-banyaknya daerah yang mendpat jatah pilkada serentak pada Desember 2015.
Pembahasan: partai Gerindra optimistis akan meraih suara terbanyak pada tahun 2015. Karena kemarin di pemilihan 2014 ia memduduki tingkat ketiga.
Isi
Bukti: “ Untuk keseluruhan, kita targetkan bias menangkan pilkada tahun ini,” kata Sekertaris Jendral DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada wartawan kemarin (10/4).
Pembahasan : Ahmad Muzani menyampaikan bahwa ia optimistis bisa memenagnkan pilkada pada tahun 2015 dengan dibanatu kader-kader maka ia semakin optimistis untuk menang.
Penutup
Bukti : Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Pembahasan : dalam pemilihan ini kader yang terbaik nanti akan dicalonkan sebagai kepala daerah,
Struktur mikro
Akan
Bukti : Muzani menyatakan, kader terbaik Partai Gerindra akan ditempatkan sebagai prioritas untuk dicalonkan sebagai kepala daerah. Aspek kapabilitas dan akseptabilitas akan menjadi pertimbangan bagi DPP Partai Gerindra untuk menentukan calon kepala daerah.
Pembahasan : akan disini sesuatu yang akn terjadi bahwa Gerindra berencana bila kader yang terbaik akan dicalonkan sebgai kepala daerah serta kapabilitas dan aksetabilitas yang akan menjadi pertiimbangannya.
Kondisi sosial
Jika dilihat bahwa kondisi sosial masyarakat partai Gerindra akan menang dengan adanya dukungan dari kader serta dengan peringkat ketiga pada peilihan tahun 2014 kemarin.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Dr. , M.Pd. Handout Mata Kuliah Analisis Wacana.
Hamad, Ibnu. tt. Perkembangan Analisis Wacana dalam Ilmu Komunikasi: Sebuah Telaah Ringkas. http://google.com. Diakses 16/05/15.
Rosidi, Imron. 2009. Analisis Wacana. http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/06/kajian-bahasa-26.html. Diakses 16/05/15.
http://syahrishareswithu.blogspot.com/2011/12/analisis-wacana-kritis-model-van-dijk.html diakses 16/05/15.
Kedudukan Wacana
Kedudukan Wacana
Pengertian Wacana:
Wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, serta berkesinambungan dan dapat disampaikan sacara lisan ataupun tertulis. (Henry Guntur Tarigan, 1987:27). Macam-macam kajian wacana:
Tindak Tutur
Konsep mengenai tindak ujaran (Speech Acts) dikemukakan pertama oleh John L. Austin dengan bukunya How to Do Things with Words (1962).Austin adalah orang pertama yang mengungkapkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk melakukan tindakan melalui pembedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif.Ujaran konstantif mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa atau keadaan dunia.Dengan demikian, ujaran konstantif dapat dikatakan benar atau salah.Sedangkan ujaran performatif, tidak mendeskripsikan benar salah dan pengujaran kalimat merupakan bagian dari tindakan.(Austin, 1962: 5).
Austin membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran, yaitu:
Lokusi, yaitu semata-mata tindak bicara, tindakan mengucapkan kalimat sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Dalam hal ini kita tidak mempermasalahkan maksud atau tujuan dari ujaran tersebut.Misal ada orang berkata “saya haus” artinya orang tersebut mengatakan dia haus.
Contoh: saya lapar artinya orang itu mengatakan dia lapar.
Ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara mengenai maksud, fungsi dan daya ujaran yang dimaksud. Jadi ketika ada kalimat ”saya haus” dapat memiliki makna dia haus dan minta minum.
Contoh: saya lapar sekali sudah 2 hari tidak makan. dapat memiliki makna dia lapar dan minta makan.
Perlokusi, adalah efek yang dihasilkan ketika penutur mengucapkan sesuatu. Misalnya ada kalimat ”saya haus” maka tindakan yang muncul adalah mitra tutur bangkit dan mengambilkan minum.
Contohnya: saya lapar berarti sebagai tindakan yang muncul dari mitra tutur mengambilkan makanan.
Konteks Tempat
Tempat yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Konteks tempat yang didayagunakan oleh anak-anak meliputi tempat yang berada di sekitar anak ketika bertutur dan tempat lain yang tidak berada di sekitar anak yang bersangkut paut dengan tuturan yang diajukan tersebut.
Contoh: tindak tutur orang di pasar dengan tukang bejak berbeda gaya bicara serta bahasa yang digunakan juga berbeda
Konteks Waktu
Konteks waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Konteks waktu yang didayagunakan oleh anak-anak tidak hanya dikaitkan dengan waktu sekarang, pada saat tuturan dilakukan, tetapi juga berkaitan dengan waktu tertentu di masa lalu dan di masa yang akan datang yang bersangkut paut dengan tuturan anak.
Konteks Peristiwa
Tindak tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa tersebut tidak saja menjadi faktor yang cukup menentukan dalam peristiwa tutur yang terjadi, tetapi juga sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Anak-anak sering menggunakan konteks peristiwa ini untuk mempengaruhi pendapat atau pandangan mitra tuturnya sehubungan dengan tindak tutur yang dilakukannya. Konteks peristiwa yang didayagunakan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya dapat berupa peristiwa tertentu yang merugikan anak dan selayaknya mendapatkan kompensasi tertentu bagi anak.
Konteks Suasana
Suasana yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Suasana yang dimaksud adalah suasana-suasana yang nyaman dan menyenangkan yang terjadi dalam peristiwa tutur tertentu, terutama suasana hati yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh mitra tuturnya.
Konteks Orang Sekitar
Ketika anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tuturnya. Orang sekitar yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak saja berkaitan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak secara langsung ketika anak menyampaikan tuturannya, tetapi juga orang lain yang berada di tempat lain tetapi bersangkut paut dengan tuturan yang disampaikan oleh anak. Orang sekitar ini tidak saja berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi, tetapi lebih dari itu kebberadaanya jiga sering dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan agar dikabulkan oleh mitra tuturnya.
Sosiolinguistik interaksional
Definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini bukan definisi yang semestinya.Akan tetapi, definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional.Dalam bagian ini, Deborah mendeskripsikan gagasan dasar sosiolingustik interaksional.Deborah mengawali dengan kerja Gumperz dan kemudian beralih ke kerja Goffman.
Etnografi komunikasi
Kajian sosiolinguistik yang tergolong mendapat perhatian cukup besar adalah kajian tentang etnografi komunikasi.Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).
DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka
Pengertian Wacana:
Wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, serta berkesinambungan dan dapat disampaikan sacara lisan ataupun tertulis. (Henry Guntur Tarigan, 1987:27). Macam-macam kajian wacana:
Tindak Tutur
Konsep mengenai tindak ujaran (Speech Acts) dikemukakan pertama oleh John L. Austin dengan bukunya How to Do Things with Words (1962).Austin adalah orang pertama yang mengungkapkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk melakukan tindakan melalui pembedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif.Ujaran konstantif mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa atau keadaan dunia.Dengan demikian, ujaran konstantif dapat dikatakan benar atau salah.Sedangkan ujaran performatif, tidak mendeskripsikan benar salah dan pengujaran kalimat merupakan bagian dari tindakan.(Austin, 1962: 5).
Austin membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran, yaitu:
Lokusi, yaitu semata-mata tindak bicara, tindakan mengucapkan kalimat sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Dalam hal ini kita tidak mempermasalahkan maksud atau tujuan dari ujaran tersebut.Misal ada orang berkata “saya haus” artinya orang tersebut mengatakan dia haus.
Contoh: saya lapar artinya orang itu mengatakan dia lapar.
Ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara mengenai maksud, fungsi dan daya ujaran yang dimaksud. Jadi ketika ada kalimat ”saya haus” dapat memiliki makna dia haus dan minta minum.
Contoh: saya lapar sekali sudah 2 hari tidak makan. dapat memiliki makna dia lapar dan minta makan.
Perlokusi, adalah efek yang dihasilkan ketika penutur mengucapkan sesuatu. Misalnya ada kalimat ”saya haus” maka tindakan yang muncul adalah mitra tutur bangkit dan mengambilkan minum.
Contohnya: saya lapar berarti sebagai tindakan yang muncul dari mitra tutur mengambilkan makanan.
Konteks Tempat
Tempat yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Konteks tempat yang didayagunakan oleh anak-anak meliputi tempat yang berada di sekitar anak ketika bertutur dan tempat lain yang tidak berada di sekitar anak yang bersangkut paut dengan tuturan yang diajukan tersebut.
Contoh: tindak tutur orang di pasar dengan tukang bejak berbeda gaya bicara serta bahasa yang digunakan juga berbeda
Konteks Waktu
Konteks waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Konteks waktu yang didayagunakan oleh anak-anak tidak hanya dikaitkan dengan waktu sekarang, pada saat tuturan dilakukan, tetapi juga berkaitan dengan waktu tertentu di masa lalu dan di masa yang akan datang yang bersangkut paut dengan tuturan anak.
Konteks Peristiwa
Tindak tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa tersebut tidak saja menjadi faktor yang cukup menentukan dalam peristiwa tutur yang terjadi, tetapi juga sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Anak-anak sering menggunakan konteks peristiwa ini untuk mempengaruhi pendapat atau pandangan mitra tuturnya sehubungan dengan tindak tutur yang dilakukannya. Konteks peristiwa yang didayagunakan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya dapat berupa peristiwa tertentu yang merugikan anak dan selayaknya mendapatkan kompensasi tertentu bagi anak.
Konteks Suasana
Suasana yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Suasana yang dimaksud adalah suasana-suasana yang nyaman dan menyenangkan yang terjadi dalam peristiwa tutur tertentu, terutama suasana hati yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh mitra tuturnya.
Konteks Orang Sekitar
Ketika anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tuturnya. Orang sekitar yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak saja berkaitan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak secara langsung ketika anak menyampaikan tuturannya, tetapi juga orang lain yang berada di tempat lain tetapi bersangkut paut dengan tuturan yang disampaikan oleh anak. Orang sekitar ini tidak saja berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi, tetapi lebih dari itu kebberadaanya jiga sering dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan agar dikabulkan oleh mitra tuturnya.
Sosiolinguistik interaksional
Definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini bukan definisi yang semestinya.Akan tetapi, definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional.Dalam bagian ini, Deborah mendeskripsikan gagasan dasar sosiolingustik interaksional.Deborah mengawali dengan kerja Gumperz dan kemudian beralih ke kerja Goffman.
Etnografi komunikasi
Kajian sosiolinguistik yang tergolong mendapat perhatian cukup besar adalah kajian tentang etnografi komunikasi.Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).
DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka
Pengertian wacana lisan dan tulisan
Pengertian wacana lisan dan tulisan
Wacana Lisan
Wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Untuk menerima, memahami atau menikmati wacana lisan ini maka para penerima harus menyimak atau mendengarkannya. Dengan kata lain pendengar adalah penyimak. (Tarigan, 52 : 2009).
ciri-ciri wacana lisan sebagai berikut:
Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar interaksi tidak terputus.
Wacana lisan sulit diulang,dalam arti mengulang hal yang sama dengan ujaran pertama.
Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh untuk memperjelas makna yang dimaksud.
Wacana lisan menyatukan partisipanya dalam satu situasi dan konteks yang sama.
Wacana lisan biasanya lebih pendek daripada wacana tulis.
Wacana lisan juga melibatkan unsure kebiasaan atau pengetahuan yang telah diketahui bersama (common ground),yang ada pada satu keluarga atau kelompok dan,
Wacana lisan sering melibatkan partisipanya secara langsung.
Contoh: Penutupan Ketua PPL
Alhamdulillahirobil alamin, terimah kepada Saudari Tuni. Baik langsung saja mewakili dari teman-teman PPL dari Stkip PGRI Jombang. Mengucapkan banyak terimah kasih atas bantuan Bapak Ibu Guru dalam membimbing kami selama 2 bulan ini, banyak kekurangan dari kami dalam mengajar serta mohon untuk dimaafkan karena kami disini juga masih belajar. Sekali lagi kami mengucapkan banyak terimah kasih kepada Bapak Ibu Guru kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wacana Tulis
Wacana tulis merupakan pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya. (Menurut Kridalaksana dalam Tarigan, 52 : 2009).
Wacana tulis mulai dikenal setelah ditemukan huruf,Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi. Huruf-huruf itu dipelajari manusia dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain yang tinggal berjauhan.
Contoh: Parpol Berkonflik Tak Bias Ikut Pilkada
Komisi Pemilihan Umum (KPU) berencana melarang partai yang mempunyai dualisme kepengurusan untuk ikut pilkada.
Kemarin aturan tersebut juga dibicarakan KPU dengan Panitia Kerja (Panja) Pilkada Komisi II DPR. Menurut Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay, aturan itu memang masih berupa rancangan dan akan dibicarakan dengan para ahli pilkada. “ Ini juga mengakomodasi permintaan anggota komisi II, khususnya yang berasal dari Golkar dan PPP.” Katanya.
Golkar dan PPP memang masih terbelit dualism kepengurusan. Hingga kini, dua parpol itu menunggu putusan tetap dari pengadilan tentang kepengurusan yang sah.
Hadar menuturkan, KPU juga akan menunggu hingga ada putusan tetap tentang kepengurusan yang sah. Namun, jika partai yang masih berkonflik ingin ikut pilkada, harus ada surat pernyataan bersama dari dua kepengurusan yang menerangkan bahwa mereka akan bersatu ketika pilkada. “ Dalam arti lain islah. Mereka harus menunjuk siapa pengurus yang sah.” Jelasnya.
Ketua KPU Husni Kamil Manik menambahkan, KPU telah mengundang sejumlah pakar hokum dalam forum diskusi tertutup untuk berkonsultasi mengenai solusi atas dualisme parpol. Secara umum para pakar hokum sepakat dengan opsi-opsi yang diusulkan KPU.
“Menurut pakar, itu cukup solutif,” tambahnya. Tinggal bagaimana sikap DPR untuk menanggapi usul opsi yang diajukan KPU.
Jenis wacana dilihat berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi yaitu :
Wacana monolog
Wacana monolog merupakan wacana yang disampaikan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Wacana monolog bersifat searah dan termasuk komunikasi tidak interaktif (noninteractive communication). Wacana monolog terjadi seperti pada orasi ilmiah, khotbah, dan penyampaian visi dan misi. Pada wacana monolog pendengar tidak memberikan tanggapan secara langsung atas ucapan pembicara.Contohnya pidato dan ceramah.
Contoh : khotbah pada hari jum’at
Wacana dialog
Wacana dialog merupakan percakapan yang dilakukan oleh dua orang secara langsung. Wacana dialog bersifat dua arah, dan masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan didalam komunikasi, sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive communication). Wacana dialog terjadi seperti pada peristiwa diskusi, musyawarah, pembicaraan telepon, Tanya jawab, dan teks drama.
Contoh : perbincangan Fitri dengan Damar saat memijam buku pelajaran.
Damar : Assalamualikum Fit.
Fitri : Walikum salam, ada apa Dam kamu malam-malam telpon aku?
Damar : Iya Fit maaf menganggumu, aku mau pinjam buku catatan Matematikamu. Tolong besok kamu bawakan ya. Bolehkan aku meminjam bukumu?
Fitri : Iya Dam boleh besok aku bawakan.
Damar : Ya uda makasih Fit.
Fitri : Iya sama-sama.
Damar : Assalamualikum.
Fitri : Walaikum salam.
Wacana polilog
Wacana polilog merupakan pembicaraan atau percakapan yang melibatkan partisipan pembicaraan lebih dari dua orang penutur. Partisipan yang terlibat dalam pembicaraan semuanya berperan aktif dan langsung dalam komunikasi. Wacana polilog terjadi seperti pada peristiwa musyawarah, diskusi, atau debat, dan teks drama.
Contoh: naskah drama
LIKA LIKU KELUARGA
Namaku Karina. Aku punya cacat ditubuh. Kaki kananku lebih kecil dibanding kaki kiri. Cacatku ini bibawa sejak lahir. Kecacatanku sebenarnya tidak aku permasalahkan. Kusadari bahwa semua ini takdir Tuhan aku rela dan tak mengeluh. Walaupun kenyataannya sangat pahit. Kini ku tinggal bersama Bapak, Ibu dan Adik.
Ibu : (masuk rumah dan kaget campur jengkel). Aduh . . . . . .ini gimana sih! Rumah kok kaya kuburan hantu. Ngapain aja sih si Karin (sambil mondar-mandir memanggil anak tirinya) Rini. . . . Karin.
Karin : (datang dari dalam karena panggilan ibunya). Ada apa Bu!
Ibu : Ada apa-ada apa. Semuanya berantakan. Ngapain aja sih kamu? (membentak-bentak)
Karina : Anu Bu, Ayah sedang sakit.
Ibu : Alah. . . ! Alasan (sambil menuding kearah Karina), kamu tuh sudah pincang, nggak ada yang peduli sama kamu. Kamu tuh ya harus berterima kasih karena masih tinggal disini. Jadi kamu harus meneruti semua perintahku. Ngerti ! (membentak keras)
Ayah : Uda lha Bu jangan kau marahi Karina, tadi dia merawat. Aku lagi gak enak badan. Lagian kenapa harus karin yang membersihkan rumah. Dia juga anak kita Buk?
Ibu : Apa enak banget, pokoknya aku pulang dari Arisan rumah ini harus bersih. Kamu mengerti Karin?
Karina : Mengerti (dengan nada lemah dan menganggukan kepala).
Ibu : Cepat bereskan semuanya. Kalau tidak, kamu nggak akan ku beri makan. Ingat itu! (lalu pergi meninggalkan rumah).
Wacana ditinjau dari tujuan berkomunikasi:
Wacana Argumentasi
Menurut ( Rottenberg,1988: 9 ).Karangan argumentasi merupakan salah satu bentuk wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pada pertimbangan logis dan emosional.
Menurut ( Gorys Keraf,1995:10 ) Argumentasi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran .Sebuah argumentasi berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti – bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu.
Contoh: siang hari ini hari ini susananya sangat panas. Sepulang sekolah aku langsung bergegas mencuci baju. Aku memcuci baju ditemani oleh ibu. Dengan suasana yang panas dan terang ibu memprediksi hari ini akan turun hujan.
Wacana Eksposisi
Karangan atau wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (Pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya. Eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Wacana ini digunakan untuk menjelaskan wujud dan hakikat suatu objek.
Contoh: HP
Handpon merupakan alat komunikasi. Dengan adanya HP membuat semua orang mudah dalam berkomunikasi. Hp digunakan untuk berkomunikasi, hp ini memiliki manfaat yang sangat besar salah satunyandnegan memperlancar komunikais antar teman, saudara maupun pacar. Hp sendiri memiliki bernagai ragam tipe. Setiap Hp memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Wacana persuasi
Wacana persuasi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan perbuatan sesuai yang diharapkan penuturnya. Untuk mempengaruhi pembacanya, biasanya digunakan segala daya dan upaya yang membuat mitra tutur terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut,wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Persuasi sesungguhnya merupakan pernyimpangan dari argumentasi,dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain atau para pembaca. Persuasi lebih mengutamakan untuk menggunakan atau memanfaatkan aspek– aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain.Jenis wacana persuasi yang paling sering ditemui adalah kampanye dan iklan.
Contoh dialog ayah dan ibu
Ayah : Bu ada Bakso enak?
Ibu : Dimana Pak?
Ayah : Di tambakberas, kemarin Bapak mencobanya harganya juga murah Bu. Baksonya berisikan daging Bu.
Ibu : Ya uda pak besok kalau Bapak ke Jombang tolong dibelikan, aku pensaran dengan rasanya.
Ayah : iya Bu.
Wacana Deskripsi
Wacana deskripsi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa sehingga objek itu sepertinya dapat dilihat,dibayangkan oleh pembaca,seakan – akan pembaca dapat melihat sendiri.Deskripsi memiliki fungsi membuat para pembacanya seolah melihat barang – barang atau objeknya.
Contoh: gunung Mahameru
Gungung Maheru meiliki sejuta pesona keindahan alam. Mahameru memiliki sejuta keindahan seperti di ranu kombolo, udara serta air yang didanau sanagt jernih membuat para pendaki tak lupa mampir di Ranu kombolo serta di bukit yang yang memiliki mitos bila pendaki tanpa menoleh ke bawah apapun keinginanya pasti terkabul.
Wacana Narasi
Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita.pada wacana narasi terdapat unsure – unsure cerita yang penting seperti waktu, pelaku, peristiwa. Adanya aspek emosi yang yang dirasakan oleh pembaca dan penerima.Melalui narasi,pembaca atau penerima pesan dapat membentuk citra atau imajinasi.
Contoh: pantai klayar
Pantai klayar merupakan pantai yang indah. Suasana pantai yang sejuk serta air yang bersih. Untuk menunju ke pantai ini membutuhkan sebuah persiapan baik dari segi fisik maupun mental. Karena jalan emnunju pantai ini sangat tajam penuh dnegan lika-liku. Oleh karena itu bila ingin ke pantai klayar harus benar-benar mempersiapakn obat agar tidak mabuk dijalan. Dengan adanya jalan yang berlika-liku.
DAFTAR PUSTAKA
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Wacana Lisan
Wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Untuk menerima, memahami atau menikmati wacana lisan ini maka para penerima harus menyimak atau mendengarkannya. Dengan kata lain pendengar adalah penyimak. (Tarigan, 52 : 2009).
ciri-ciri wacana lisan sebagai berikut:
Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar interaksi tidak terputus.
Wacana lisan sulit diulang,dalam arti mengulang hal yang sama dengan ujaran pertama.
Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh untuk memperjelas makna yang dimaksud.
Wacana lisan menyatukan partisipanya dalam satu situasi dan konteks yang sama.
Wacana lisan biasanya lebih pendek daripada wacana tulis.
Wacana lisan juga melibatkan unsure kebiasaan atau pengetahuan yang telah diketahui bersama (common ground),yang ada pada satu keluarga atau kelompok dan,
Wacana lisan sering melibatkan partisipanya secara langsung.
Contoh: Penutupan Ketua PPL
Alhamdulillahirobil alamin, terimah kepada Saudari Tuni. Baik langsung saja mewakili dari teman-teman PPL dari Stkip PGRI Jombang. Mengucapkan banyak terimah kasih atas bantuan Bapak Ibu Guru dalam membimbing kami selama 2 bulan ini, banyak kekurangan dari kami dalam mengajar serta mohon untuk dimaafkan karena kami disini juga masih belajar. Sekali lagi kami mengucapkan banyak terimah kasih kepada Bapak Ibu Guru kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wacana Tulis
Wacana tulis merupakan pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya. (Menurut Kridalaksana dalam Tarigan, 52 : 2009).
Wacana tulis mulai dikenal setelah ditemukan huruf,Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi. Huruf-huruf itu dipelajari manusia dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain yang tinggal berjauhan.
Contoh: Parpol Berkonflik Tak Bias Ikut Pilkada
Komisi Pemilihan Umum (KPU) berencana melarang partai yang mempunyai dualisme kepengurusan untuk ikut pilkada.
Kemarin aturan tersebut juga dibicarakan KPU dengan Panitia Kerja (Panja) Pilkada Komisi II DPR. Menurut Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay, aturan itu memang masih berupa rancangan dan akan dibicarakan dengan para ahli pilkada. “ Ini juga mengakomodasi permintaan anggota komisi II, khususnya yang berasal dari Golkar dan PPP.” Katanya.
Golkar dan PPP memang masih terbelit dualism kepengurusan. Hingga kini, dua parpol itu menunggu putusan tetap dari pengadilan tentang kepengurusan yang sah.
Hadar menuturkan, KPU juga akan menunggu hingga ada putusan tetap tentang kepengurusan yang sah. Namun, jika partai yang masih berkonflik ingin ikut pilkada, harus ada surat pernyataan bersama dari dua kepengurusan yang menerangkan bahwa mereka akan bersatu ketika pilkada. “ Dalam arti lain islah. Mereka harus menunjuk siapa pengurus yang sah.” Jelasnya.
Ketua KPU Husni Kamil Manik menambahkan, KPU telah mengundang sejumlah pakar hokum dalam forum diskusi tertutup untuk berkonsultasi mengenai solusi atas dualisme parpol. Secara umum para pakar hokum sepakat dengan opsi-opsi yang diusulkan KPU.
“Menurut pakar, itu cukup solutif,” tambahnya. Tinggal bagaimana sikap DPR untuk menanggapi usul opsi yang diajukan KPU.
Jenis wacana dilihat berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi yaitu :
Wacana monolog
Wacana monolog merupakan wacana yang disampaikan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Wacana monolog bersifat searah dan termasuk komunikasi tidak interaktif (noninteractive communication). Wacana monolog terjadi seperti pada orasi ilmiah, khotbah, dan penyampaian visi dan misi. Pada wacana monolog pendengar tidak memberikan tanggapan secara langsung atas ucapan pembicara.Contohnya pidato dan ceramah.
Contoh : khotbah pada hari jum’at
Wacana dialog
Wacana dialog merupakan percakapan yang dilakukan oleh dua orang secara langsung. Wacana dialog bersifat dua arah, dan masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan didalam komunikasi, sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive communication). Wacana dialog terjadi seperti pada peristiwa diskusi, musyawarah, pembicaraan telepon, Tanya jawab, dan teks drama.
Contoh : perbincangan Fitri dengan Damar saat memijam buku pelajaran.
Damar : Assalamualikum Fit.
Fitri : Walikum salam, ada apa Dam kamu malam-malam telpon aku?
Damar : Iya Fit maaf menganggumu, aku mau pinjam buku catatan Matematikamu. Tolong besok kamu bawakan ya. Bolehkan aku meminjam bukumu?
Fitri : Iya Dam boleh besok aku bawakan.
Damar : Ya uda makasih Fit.
Fitri : Iya sama-sama.
Damar : Assalamualikum.
Fitri : Walaikum salam.
Wacana polilog
Wacana polilog merupakan pembicaraan atau percakapan yang melibatkan partisipan pembicaraan lebih dari dua orang penutur. Partisipan yang terlibat dalam pembicaraan semuanya berperan aktif dan langsung dalam komunikasi. Wacana polilog terjadi seperti pada peristiwa musyawarah, diskusi, atau debat, dan teks drama.
Contoh: naskah drama
LIKA LIKU KELUARGA
Namaku Karina. Aku punya cacat ditubuh. Kaki kananku lebih kecil dibanding kaki kiri. Cacatku ini bibawa sejak lahir. Kecacatanku sebenarnya tidak aku permasalahkan. Kusadari bahwa semua ini takdir Tuhan aku rela dan tak mengeluh. Walaupun kenyataannya sangat pahit. Kini ku tinggal bersama Bapak, Ibu dan Adik.
Ibu : (masuk rumah dan kaget campur jengkel). Aduh . . . . . .ini gimana sih! Rumah kok kaya kuburan hantu. Ngapain aja sih si Karin (sambil mondar-mandir memanggil anak tirinya) Rini. . . . Karin.
Karin : (datang dari dalam karena panggilan ibunya). Ada apa Bu!
Ibu : Ada apa-ada apa. Semuanya berantakan. Ngapain aja sih kamu? (membentak-bentak)
Karina : Anu Bu, Ayah sedang sakit.
Ibu : Alah. . . ! Alasan (sambil menuding kearah Karina), kamu tuh sudah pincang, nggak ada yang peduli sama kamu. Kamu tuh ya harus berterima kasih karena masih tinggal disini. Jadi kamu harus meneruti semua perintahku. Ngerti ! (membentak keras)
Ayah : Uda lha Bu jangan kau marahi Karina, tadi dia merawat. Aku lagi gak enak badan. Lagian kenapa harus karin yang membersihkan rumah. Dia juga anak kita Buk?
Ibu : Apa enak banget, pokoknya aku pulang dari Arisan rumah ini harus bersih. Kamu mengerti Karin?
Karina : Mengerti (dengan nada lemah dan menganggukan kepala).
Ibu : Cepat bereskan semuanya. Kalau tidak, kamu nggak akan ku beri makan. Ingat itu! (lalu pergi meninggalkan rumah).
Wacana ditinjau dari tujuan berkomunikasi:
Wacana Argumentasi
Menurut ( Rottenberg,1988: 9 ).Karangan argumentasi merupakan salah satu bentuk wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pada pertimbangan logis dan emosional.
Menurut ( Gorys Keraf,1995:10 ) Argumentasi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran .Sebuah argumentasi berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti – bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu.
Contoh: siang hari ini hari ini susananya sangat panas. Sepulang sekolah aku langsung bergegas mencuci baju. Aku memcuci baju ditemani oleh ibu. Dengan suasana yang panas dan terang ibu memprediksi hari ini akan turun hujan.
Wacana Eksposisi
Karangan atau wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (Pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya. Eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Wacana ini digunakan untuk menjelaskan wujud dan hakikat suatu objek.
Contoh: HP
Handpon merupakan alat komunikasi. Dengan adanya HP membuat semua orang mudah dalam berkomunikasi. Hp digunakan untuk berkomunikasi, hp ini memiliki manfaat yang sangat besar salah satunyandnegan memperlancar komunikais antar teman, saudara maupun pacar. Hp sendiri memiliki bernagai ragam tipe. Setiap Hp memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Wacana persuasi
Wacana persuasi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan perbuatan sesuai yang diharapkan penuturnya. Untuk mempengaruhi pembacanya, biasanya digunakan segala daya dan upaya yang membuat mitra tutur terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut,wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Persuasi sesungguhnya merupakan pernyimpangan dari argumentasi,dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain atau para pembaca. Persuasi lebih mengutamakan untuk menggunakan atau memanfaatkan aspek– aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain.Jenis wacana persuasi yang paling sering ditemui adalah kampanye dan iklan.
Contoh dialog ayah dan ibu
Ayah : Bu ada Bakso enak?
Ibu : Dimana Pak?
Ayah : Di tambakberas, kemarin Bapak mencobanya harganya juga murah Bu. Baksonya berisikan daging Bu.
Ibu : Ya uda pak besok kalau Bapak ke Jombang tolong dibelikan, aku pensaran dengan rasanya.
Ayah : iya Bu.
Wacana Deskripsi
Wacana deskripsi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa sehingga objek itu sepertinya dapat dilihat,dibayangkan oleh pembaca,seakan – akan pembaca dapat melihat sendiri.Deskripsi memiliki fungsi membuat para pembacanya seolah melihat barang – barang atau objeknya.
Contoh: gunung Mahameru
Gungung Maheru meiliki sejuta pesona keindahan alam. Mahameru memiliki sejuta keindahan seperti di ranu kombolo, udara serta air yang didanau sanagt jernih membuat para pendaki tak lupa mampir di Ranu kombolo serta di bukit yang yang memiliki mitos bila pendaki tanpa menoleh ke bawah apapun keinginanya pasti terkabul.
Wacana Narasi
Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita.pada wacana narasi terdapat unsure – unsure cerita yang penting seperti waktu, pelaku, peristiwa. Adanya aspek emosi yang yang dirasakan oleh pembaca dan penerima.Melalui narasi,pembaca atau penerima pesan dapat membentuk citra atau imajinasi.
Contoh: pantai klayar
Pantai klayar merupakan pantai yang indah. Suasana pantai yang sejuk serta air yang bersih. Untuk menunju ke pantai ini membutuhkan sebuah persiapan baik dari segi fisik maupun mental. Karena jalan emnunju pantai ini sangat tajam penuh dnegan lika-liku. Oleh karena itu bila ingin ke pantai klayar harus benar-benar mempersiapakn obat agar tidak mabuk dijalan. Dengan adanya jalan yang berlika-liku.
DAFTAR PUSTAKA
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Deiksis, Implikatur dan Paraanggapan
Deiksis, Implikatur dan Paraanggapan
Pengertian Deiksis
Deiksis berasal dari bahasa Yunani deikditos, yang berarti hal penunjukkan secara langsung. Dalam linguistik kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran.
Sebuah kata bersifat deiksis jika referen atau rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, atau saat bicara dan tempat dituturkannya kata itu. Bambang Kaswanti Purwo (dalam Chaniago, dkk:2001) membedakan deiksis menjadi tiga bagian, yaitu deiksis persona, deiksis ruang dan deiksis waktu.
Deiksis Persona
Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebut memiliki bentuk tunggal dan saya jamak.
Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, inyong/enyong/nyong dan dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia : kami, kita). Namun dalam pemaian antara aku dan saya itu berbeda. Aku di pakai pada saat informal namun berbeda dengan saya dipakai pada waktu formal seperti di saat pidato, ceramah dan kuliah. Contoh: saya sampaikan terimah kasih kepada saudari Yuyun yang telah memberikan tanggapan terhadap kelompok satu.
Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia : engkau, kamu, anda, kau dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua). Contoh: anda begitu cantik memakai gaun pengantin ini.
Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia, beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal ditambahi dengan kata kabeh ((Indonesia : mereka). Contoh: ia akan terlihat lebih cantik bila mau memakai bedak sedikit.
Deiksis Ruang
Deiksis ruang mengacu mengacu pada penggambaran tempat atau keadaan tertentu yang berorientasi pada sudut pandang penutur atau pembicara. Bentuk-bentuk proposisi di, ke, dari dan pada, jika digabungkan dengan penunjuk tempat akan membentuk deiksis ruang, dengan catatan unsur rujukan yang berorientasi pada penutur juga terdapat dalam tuturan atau wacana. Contoh deiksis ruang menurut saya, lokasi ini sangat cocok untuk membuka tempat usaha.
Deiksis Waktu
Deiksis waktu mengacu pada penggambaran waktu dan bersifat temporal. Leksem waktu dikatakan deiksis apabila yang dijadikan patokan adalah penutur atau pembicara. Leksem waktu dapat dengan sendirinya bersifat deiksis atau dapat juga dibentuk dengan cara menggabungkan unsur-unsur lain pada leksem tersebut.
Contoh:
Kemarin saya terlambat sekolah.
Kita akan mengikuti PPL bulan depan.
Contoh (a) merupakan deiksis dan bersifat bebas. Sedangkan contoh (b) merupakan deiksis bentukan dari leksem ruang (depan) yang mengungkapkan pengertian waktu (bulan depan). Leksem waktu pagi, siang, sore, malam tidak merupakan deiksis. Karena perbedaan masing-masing leksem itu ditentukan berdasarkan patokan posisi planet bumi dan matahari. Contoh deiksis dalam wacana: Malam selalu terasa begitu dingin. Semilirnya hembusan angin berhasil membuatku menggigil. Mengenangmu menjadi rutinitas wajibku setiap malam. Ketika kau masih di sini bersamaku. Saat kau menjanjikan kebahagiaan untukku kelak. Tapi semua berlalu. Kau tak muncul tahun ini, bahkan mungkin tahun depan. Kau dan aku hingga malam ini menelan jauhnya jarak untuk sekedar mengungkapkan rindu. Hanya kebesaran-Nya menjadi harapanku.
Deiksis Wacana
Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan.
Contoh kalimat yang bersifat anafora: Baju keluaran terbaru itu harganya sangat mahal. Kata ‘itu’ merujuk pada ‘baju’ yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga berupa dieksis anafora. Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan. Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Di sini, digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.
Deiksis Sosial
Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu. Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.
Apakah saya bisa menemui Ibu hari ini?
Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.
Praanggapan (Presupposition)
Praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan (Brown dan yule, 1996). Asumsi tersebut ditentukan batas-batasannya berdasarkan anggapan-anggapan pembicara mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh lawan bicara tanpa tantangan. Sebagai ilustrasi perhatikan percakapan di bawah ini:
Contoh: Prabowo tuding pemerintah membela parpol. Belum tentu, bisa jadi parpolnya yang membela diri.
Praanggapan
Kalimat diatas termasuk kedalam pranggapan. Dikatakan pranggapan karena kalimat satu menduga kalimat dua. Pada kalimat satu Prabowo menuduh pemerintah membelah parpol padahal bemum tentu pemerintah membelah parpol beneran bisa jadi parpol yang mebelah dirinya sendiri.
Dari contoh di atas dipahami bahwa apabila suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna, yang tidak dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu (Bambang Kaswanti Purwo, 1990).
IMPLIKATUR PERCAKAPAN
Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir: Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.
Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud.
Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama.
Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.
Grice (1957, juga dalam Steinberg & Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral. Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:
Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.
Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan.
Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai.
Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan.
Contoh: Harga naik ganggu industri.
Lebih terganggu lagi anggaran belanja para istri...
Kalimat diatas termasuk kedalam implikatut (makna tersirat) dimana secara tidak langsung bila industri naik maka para istri akan binggung membelanjaan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pokok semakin mahal.
DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka
Pengertian Deiksis
Deiksis berasal dari bahasa Yunani deikditos, yang berarti hal penunjukkan secara langsung. Dalam linguistik kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran.
Sebuah kata bersifat deiksis jika referen atau rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, atau saat bicara dan tempat dituturkannya kata itu. Bambang Kaswanti Purwo (dalam Chaniago, dkk:2001) membedakan deiksis menjadi tiga bagian, yaitu deiksis persona, deiksis ruang dan deiksis waktu.
Deiksis Persona
Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebut memiliki bentuk tunggal dan saya jamak.
Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, inyong/enyong/nyong dan dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia : kami, kita). Namun dalam pemaian antara aku dan saya itu berbeda. Aku di pakai pada saat informal namun berbeda dengan saya dipakai pada waktu formal seperti di saat pidato, ceramah dan kuliah. Contoh: saya sampaikan terimah kasih kepada saudari Yuyun yang telah memberikan tanggapan terhadap kelompok satu.
Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia : engkau, kamu, anda, kau dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua). Contoh: anda begitu cantik memakai gaun pengantin ini.
Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia, beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal ditambahi dengan kata kabeh ((Indonesia : mereka). Contoh: ia akan terlihat lebih cantik bila mau memakai bedak sedikit.
Deiksis Ruang
Deiksis ruang mengacu mengacu pada penggambaran tempat atau keadaan tertentu yang berorientasi pada sudut pandang penutur atau pembicara. Bentuk-bentuk proposisi di, ke, dari dan pada, jika digabungkan dengan penunjuk tempat akan membentuk deiksis ruang, dengan catatan unsur rujukan yang berorientasi pada penutur juga terdapat dalam tuturan atau wacana. Contoh deiksis ruang menurut saya, lokasi ini sangat cocok untuk membuka tempat usaha.
Deiksis Waktu
Deiksis waktu mengacu pada penggambaran waktu dan bersifat temporal. Leksem waktu dikatakan deiksis apabila yang dijadikan patokan adalah penutur atau pembicara. Leksem waktu dapat dengan sendirinya bersifat deiksis atau dapat juga dibentuk dengan cara menggabungkan unsur-unsur lain pada leksem tersebut.
Contoh:
Kemarin saya terlambat sekolah.
Kita akan mengikuti PPL bulan depan.
Contoh (a) merupakan deiksis dan bersifat bebas. Sedangkan contoh (b) merupakan deiksis bentukan dari leksem ruang (depan) yang mengungkapkan pengertian waktu (bulan depan). Leksem waktu pagi, siang, sore, malam tidak merupakan deiksis. Karena perbedaan masing-masing leksem itu ditentukan berdasarkan patokan posisi planet bumi dan matahari. Contoh deiksis dalam wacana: Malam selalu terasa begitu dingin. Semilirnya hembusan angin berhasil membuatku menggigil. Mengenangmu menjadi rutinitas wajibku setiap malam. Ketika kau masih di sini bersamaku. Saat kau menjanjikan kebahagiaan untukku kelak. Tapi semua berlalu. Kau tak muncul tahun ini, bahkan mungkin tahun depan. Kau dan aku hingga malam ini menelan jauhnya jarak untuk sekedar mengungkapkan rindu. Hanya kebesaran-Nya menjadi harapanku.
Deiksis Wacana
Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan.
Contoh kalimat yang bersifat anafora: Baju keluaran terbaru itu harganya sangat mahal. Kata ‘itu’ merujuk pada ‘baju’ yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga berupa dieksis anafora. Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan. Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Di sini, digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.
Deiksis Sosial
Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu. Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.
Apakah saya bisa menemui Ibu hari ini?
Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.
Praanggapan (Presupposition)
Praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan (Brown dan yule, 1996). Asumsi tersebut ditentukan batas-batasannya berdasarkan anggapan-anggapan pembicara mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh lawan bicara tanpa tantangan. Sebagai ilustrasi perhatikan percakapan di bawah ini:
Contoh: Prabowo tuding pemerintah membela parpol. Belum tentu, bisa jadi parpolnya yang membela diri.
Praanggapan
Kalimat diatas termasuk kedalam pranggapan. Dikatakan pranggapan karena kalimat satu menduga kalimat dua. Pada kalimat satu Prabowo menuduh pemerintah membelah parpol padahal bemum tentu pemerintah membelah parpol beneran bisa jadi parpol yang mebelah dirinya sendiri.
Dari contoh di atas dipahami bahwa apabila suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna, yang tidak dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu (Bambang Kaswanti Purwo, 1990).
IMPLIKATUR PERCAKAPAN
Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir: Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.
Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud.
Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama.
Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.
Grice (1957, juga dalam Steinberg & Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral. Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:
Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.
Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan.
Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai.
Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan.
Contoh: Harga naik ganggu industri.
Lebih terganggu lagi anggaran belanja para istri...
Kalimat diatas termasuk kedalam implikatut (makna tersirat) dimana secara tidak langsung bila industri naik maka para istri akan binggung membelanjaan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pokok semakin mahal.
DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka
Piranti kohesi dan koherensi
Piranti kohesi dan koherensi
Piranti kohesi
Kohesi adalah keterikatan antar unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yg ditandai antara lain konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. (kbbi ofline 1.3). Kohesi merupakan organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam setrata leksikal tertentu. (Gutwinsky, 1976: 26 dalam Tarigan (2009: 93).
Piranti kohesi dibagi menjadi dua piranti kohesi gramatikal dan piranti kohesi leksikal.
Kohesi Leksikal
Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual. Contoh: Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata. Contoh: Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.
Antonim
Antonim merupakan perlawanan kata. Contoh: Dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagian besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
Hiponim
Hiponim merupakan sebuah pernyataan yang berpola umum-khusus Contoh: Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
Kolokasi
Kolokasi merupakan sebuah pernyataan yang berpola khusus-umum. Contoh: Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa, namanya menjadi terkenal.
Ekuivalensi
Ekuivalensi merupakan kesejajaran dalam sebuah kalimat. Contoh: Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.
Kohesi Gramatikal
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi dapat berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Kohesi gramatikal dibagi menjadi beberapa bagian yang meliputi:
Referensi (pengacuan)
Referensi merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya, referensi terbagi atas:
Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana. Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda berpijar yang menerangi alam ini”.
Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi atas:
Referensi anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu, mengacu yang sebelah kiri. Contoh: Peringatan HUT ke-66 Indonesia ini akan di ramaikan dengan pagelaran pesta kembang api.
Referensi katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu yang sebelah kanan. Contoh: Kamu harus pergi! Ayo, cici cepatlah!
Substitusi ( penggantian)
Substitusi diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
Substitusi nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata benda. Contoh: Memang Soni mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu memang cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
Substitusi verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata kerja. Contoh: Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore. Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa frasa. Contoh: Hari ini hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok Nenek di desa.
Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa klausa.
Elipsis (pelesapan)
Elipsis adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Adapun fungsi dari elipsis yaitu:
Untuk efektifitas kalimat
Untuk mencapai nilai ekkonomis dalam pemakaian bahasa
Untuk mencapai aspek kepaduan wacana
Untuk mengaktifkan pikiran pendengar atau pembaca terhadap sesuatu yang di ungkapkan dalam satuan kata.
Konjungsi (perangkaian)
Konjungsi adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf. Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
Sebab-akibat
Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya. Konjungsi yang digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh arena itu, dengan demikian dan sebagainya. Contoh: Adik sakit sehingga tidak masuk sekolah.
Pertentangan
Hubungan pertentangan terjadi apabila ada dua ide atau proposisi yang menunjukkan kebalikan atau kekontrasan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun. Contoh: Nyamuk berseliweran, pengemis, pelacur, pencoleng, dan gelandangan berkeliaran. Namun, di kampung kumuh tersebut sedang dibangun sekolah mewah.
Kelebihan atau eksesif
Hubungan eksesif digunakan untuk menyatakan kelebihan, ditandai dengan konjungsi malah. Contoh: Karena tadi malam kurang istirahat, dia tertidur di dalam kelas. Malah tugasnya belum dikerjakan pula.
Perkecualian atau eksepsif
Hubungan eksepsif digunakan untuk menyatakan pengecualian, ditandai dengan konjungsi kecuali. Contoh: Anda tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut kecuali dengan persetujuan dokter.
Tujuan
Hubungan tujuan terjadi sebagai pewujudan untuk menyatakan tujuan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu: agar dan sehingga. Contoh: Agar naik kelas, kamu harus rajin belajar.
Penambahan atau aditif
Penambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Konjungsi yang digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu. Contoh: Tingkah lakunya menawan. Tutur katanya sopan. Murah senyum, jarang marah, dan tidak pernah berbohong. Juga tidak mau mempercakapkan orang lain. Selain itu, ia suka menolong sesama teman. Dan dia penyabar.
Pilihan atau alternatif
Pilihan digunakan menyatakan pilihan antara dua hal. Konjungsi yang digunakan yaitu atau dan apa. Contoh: Pelajaran apa yang lebih kamu suka IPA atau IPS?
Harapan atau optatif
Konjungsi harapan digunakan untuk menyatakan harapan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu semoga, moga-moga. Contoh: Semoga, dia lulus dengan nilai terbaik.
Urutan atau sekuential
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan kesejajaran atau urutan waktu. Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula. Contoh: Intan bangun tidur pukul 05.00, kemudian ambil air wudlu. Setelah itu dia menunaikan sholat subuh dengan khusyuk. Lalu tak lupa ia mengaji.
Syarat
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan syarat. Konjungsi yang digunakan yaitu: apabila dan jika. Contoh: Jika bulan ini aku bisa bekerja lebih giat maka gajiku akan bertambah.
Cara
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan cara. Konjungsi yang digunakan yaitu: dengan cara. Contoh: Mungkin dengan cara seperti ini, aku membantu beban keluarga.
DAFTAR RUJUKAN
Hany Uswatun Nisa. 2011. Kohesi Dan Koherensi Antarkalimat Dalam Wacana Berita Di Majalah Panjebar Semangat. FBS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Hidayat, Deddy. 2011. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Printing Cemerlang : Yogyakarta
Tarigan, Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa : Bandung
http://maikylamasia.blogspot.com/2012/10/makalah-tema-topik-dan-judul-karangan.html
(http://jadi-bisa.blogspot.com/2014/01/contoh-karangan-deskripsi-lengkap.html
Piranti kohesi
Kohesi adalah keterikatan antar unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yg ditandai antara lain konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. (kbbi ofline 1.3). Kohesi merupakan organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam setrata leksikal tertentu. (Gutwinsky, 1976: 26 dalam Tarigan (2009: 93).
Piranti kohesi dibagi menjadi dua piranti kohesi gramatikal dan piranti kohesi leksikal.
Kohesi Leksikal
Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual. Contoh: Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata. Contoh: Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.
Antonim
Antonim merupakan perlawanan kata. Contoh: Dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagian besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
Hiponim
Hiponim merupakan sebuah pernyataan yang berpola umum-khusus Contoh: Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
Kolokasi
Kolokasi merupakan sebuah pernyataan yang berpola khusus-umum. Contoh: Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa, namanya menjadi terkenal.
Ekuivalensi
Ekuivalensi merupakan kesejajaran dalam sebuah kalimat. Contoh: Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.
Kohesi Gramatikal
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi dapat berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Kohesi gramatikal dibagi menjadi beberapa bagian yang meliputi:
Referensi (pengacuan)
Referensi merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya, referensi terbagi atas:
Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana. Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda berpijar yang menerangi alam ini”.
Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi atas:
Referensi anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu, mengacu yang sebelah kiri. Contoh: Peringatan HUT ke-66 Indonesia ini akan di ramaikan dengan pagelaran pesta kembang api.
Referensi katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu yang sebelah kanan. Contoh: Kamu harus pergi! Ayo, cici cepatlah!
Substitusi ( penggantian)
Substitusi diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
Substitusi nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata benda. Contoh: Memang Soni mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu memang cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
Substitusi verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata kerja. Contoh: Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore. Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa frasa. Contoh: Hari ini hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok Nenek di desa.
Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa klausa.
Elipsis (pelesapan)
Elipsis adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Adapun fungsi dari elipsis yaitu:
Untuk efektifitas kalimat
Untuk mencapai nilai ekkonomis dalam pemakaian bahasa
Untuk mencapai aspek kepaduan wacana
Untuk mengaktifkan pikiran pendengar atau pembaca terhadap sesuatu yang di ungkapkan dalam satuan kata.
Konjungsi (perangkaian)
Konjungsi adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf. Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
Sebab-akibat
Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya. Konjungsi yang digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh arena itu, dengan demikian dan sebagainya. Contoh: Adik sakit sehingga tidak masuk sekolah.
Pertentangan
Hubungan pertentangan terjadi apabila ada dua ide atau proposisi yang menunjukkan kebalikan atau kekontrasan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun. Contoh: Nyamuk berseliweran, pengemis, pelacur, pencoleng, dan gelandangan berkeliaran. Namun, di kampung kumuh tersebut sedang dibangun sekolah mewah.
Kelebihan atau eksesif
Hubungan eksesif digunakan untuk menyatakan kelebihan, ditandai dengan konjungsi malah. Contoh: Karena tadi malam kurang istirahat, dia tertidur di dalam kelas. Malah tugasnya belum dikerjakan pula.
Perkecualian atau eksepsif
Hubungan eksepsif digunakan untuk menyatakan pengecualian, ditandai dengan konjungsi kecuali. Contoh: Anda tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut kecuali dengan persetujuan dokter.
Tujuan
Hubungan tujuan terjadi sebagai pewujudan untuk menyatakan tujuan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu: agar dan sehingga. Contoh: Agar naik kelas, kamu harus rajin belajar.
Penambahan atau aditif
Penambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Konjungsi yang digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu. Contoh: Tingkah lakunya menawan. Tutur katanya sopan. Murah senyum, jarang marah, dan tidak pernah berbohong. Juga tidak mau mempercakapkan orang lain. Selain itu, ia suka menolong sesama teman. Dan dia penyabar.
Pilihan atau alternatif
Pilihan digunakan menyatakan pilihan antara dua hal. Konjungsi yang digunakan yaitu atau dan apa. Contoh: Pelajaran apa yang lebih kamu suka IPA atau IPS?
Harapan atau optatif
Konjungsi harapan digunakan untuk menyatakan harapan yang ingin dicapai. Konjungsi yang digunakan yaitu semoga, moga-moga. Contoh: Semoga, dia lulus dengan nilai terbaik.
Urutan atau sekuential
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan kesejajaran atau urutan waktu. Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula. Contoh: Intan bangun tidur pukul 05.00, kemudian ambil air wudlu. Setelah itu dia menunaikan sholat subuh dengan khusyuk. Lalu tak lupa ia mengaji.
Syarat
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan syarat. Konjungsi yang digunakan yaitu: apabila dan jika. Contoh: Jika bulan ini aku bisa bekerja lebih giat maka gajiku akan bertambah.
Cara
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan cara. Konjungsi yang digunakan yaitu: dengan cara. Contoh: Mungkin dengan cara seperti ini, aku membantu beban keluarga.
DAFTAR RUJUKAN
Hany Uswatun Nisa. 2011. Kohesi Dan Koherensi Antarkalimat Dalam Wacana Berita Di Majalah Panjebar Semangat. FBS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Hidayat, Deddy. 2011. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Printing Cemerlang : Yogyakarta
Tarigan, Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa : Bandung
http://maikylamasia.blogspot.com/2012/10/makalah-tema-topik-dan-judul-karangan.html
(http://jadi-bisa.blogspot.com/2014/01/contoh-karangan-deskripsi-lengkap.html
Teks, Ko-teks dan Konteks
Teks, Ko-teks dan Konteks
Pengertian
Teks
Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3) ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Dilihat dari tiga pengertian teks yang dikemukakan dalam Kamus Linguistik tersebut dapat dikatakan bahwa teks adalah satuan bahasa yang bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia.
Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Bentuknya bisa percakapan dan tulisan (bentuk-bentuk yang kita gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan). Hal penting mengenai sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari makna-makna.Memang makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain haruslah dikodekan dalm tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output), sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai terjadi kesalah pahaman. Kreteria yang dapat dikatakan teks yaitu:
Intertekstualitas: setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas: cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah. Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas (penerimaan informasi).
Informativitas: kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas: situasi tuturan
Contoh: Membangun Rumah Sakit
Pada masa sekarang ini banyak rumah sakit dibangun, baik itu rumah sakit negeri maupun swasta. Semarak berdirinya rumah sakit tersebut diperkirakan karena adanya izin pendirian rumah sakit yang relatif mudah. Rumah sakit negeri di daerah tertinggal mempunyai jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan swasta. Hal tersebut dapat dinalar karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya faktor finansial, sosial, asal-muasal adanya dokter, dan masih banyak lagi.
Dari contoh diatas termasuk teks dalam dikatakan kohesi memiliki kesatuan makna seperti kata ini, itu merupakan promonina kata ganti penunjuk, karena merupakan konjugsi klausal dan yang merupakan kata ganti penghubung.
Konteks
Menurut Kridalaksana, konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa; lingkungan/ situasi tuturan berlangsung yang menumbuhkan makna pada ujaran; lingkungan nonlinguistik dari wacana. Menurut Moelyono dan Soenjono, konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode. Unsur-unsur itu berhubungan pula dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa, antara lain:
Latar : tempat dan waktu terjadinya percakapan.
Peserta : peserta percakapan yakni pembicara (penyapa) dan pendengar (pesapa)
3. Hasil : hasil dan tujuan percakapan
4. Amanat: bentuk dan isi amanat
5. Cara : cara percakapan dilakukan, dengan semangat, santai atau tergesa-gesa
6. Sarana : penggunaan bahasa lisan atau tulis; variasi bahasa yang digunakan
7. Norma : perilaku peserta percakapan
8. Jenis : mengacu pada kategori seperti sajak, teka-teki, kuliah, dan doa
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah segala sesuatu yang melingkupi teks. Teks dan konteks merupakan sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks.
Contoh : Tak jodoh
Sebuah awal yang begitu menyenangkan ulang tahun diucapkan oleh seorang cowok. Ucapan yang dikirim lewat Fb itu berupa ucapan ulang tahun namun berupa gambar. Sebagai seorang cewek yang baik aku pun membalas sebuah ucapan tersebut dengan terima kasih. Dengan berjalannya waktu kini kami menjadi seorang sahabat. Hari demi hari kita selalu mengirim pesan lewat jejaring sosial rasa suka dan sayang ini mulai muncul diantara kami hingga kami menjadi seoarng kekasih. Namun jelang beberapa bulan kami putus karena orangtuaku tak menyetujui karena mengerti pekerjaan Vino seorang polisi akirnya kami memutuskan untuk berpisah walaupun diantara kami saling menyangi.
Dari contoh diatas dapat dilihat dari latar tempat bahwa perkenalan antara tokoh aku dan Vino berkenalan lewat Fb, penuturnya yaitu aku dan Vino sedangkan bila ditinjau dari normanya kurang sopan hanya masalah pekerjaan orang tua tidak menyetujui anaknya untuk menjalin kasih dengan orang yang ia sayangi .
Ko-teks
Ko-teks adalah kalimat yang mendahului dan atau yang mengikuti di dalam wacana. (KBBI Offline) Dilihat berdasarkan makna dalam Kamus Linguistik (2011:137), koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Koteks adalah teks yang mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran dengan teks yang didampinginya. Keberadaan teks yang didampingi itu bisa terletak di depan (mendahului) atau di belakang teks yang mendampingi (mengiringi). Adapun koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf, dan bahkan wacana. Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau memperjelas makna.
Contoh penggunaan koteks adalah sebagai berikut.
Terima kasih
Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.
Contoh diatas merupakan peringatan bagi orang yang akan melewati jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks (teks penjelas) bagi teks lainnya.
Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya. Perhatikan contoh berikut ini.
Khoirul Huda adalah pemain bola dari pesela Lamongan. Keberadaan dia di persela paling lama diantara teman-temannya yang lain. Keberadaan di Lamongan yang lama membuat dikenal para suporte dari La Mania.
Kata dia, dan –nya yang terdapat pada kalimat kedua mengacu kepada Khoirul Huda pada kalimat pertama. Tafsiran itu didasarkan pada kalimat yang menyatakan bahwa Khoirul Huda adalah pemain bola dari pesela Lamongan. Jadi, Khoirul Huda pada kalimat itu menjadi koteks bagi dia dan -nya.
Daftar Pustaka
Mulyana. 2008. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang.
Pengertian
Teks
Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3) ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Dilihat dari tiga pengertian teks yang dikemukakan dalam Kamus Linguistik tersebut dapat dikatakan bahwa teks adalah satuan bahasa yang bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia.
Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Bentuknya bisa percakapan dan tulisan (bentuk-bentuk yang kita gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan). Hal penting mengenai sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari makna-makna.Memang makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain haruslah dikodekan dalm tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output), sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai terjadi kesalah pahaman. Kreteria yang dapat dikatakan teks yaitu:
Intertekstualitas: setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas: cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah. Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas (penerimaan informasi).
Informativitas: kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas: situasi tuturan
Contoh: Membangun Rumah Sakit
Pada masa sekarang ini banyak rumah sakit dibangun, baik itu rumah sakit negeri maupun swasta. Semarak berdirinya rumah sakit tersebut diperkirakan karena adanya izin pendirian rumah sakit yang relatif mudah. Rumah sakit negeri di daerah tertinggal mempunyai jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan swasta. Hal tersebut dapat dinalar karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya faktor finansial, sosial, asal-muasal adanya dokter, dan masih banyak lagi.
Dari contoh diatas termasuk teks dalam dikatakan kohesi memiliki kesatuan makna seperti kata ini, itu merupakan promonina kata ganti penunjuk, karena merupakan konjugsi klausal dan yang merupakan kata ganti penghubung.
Konteks
Menurut Kridalaksana, konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa; lingkungan/ situasi tuturan berlangsung yang menumbuhkan makna pada ujaran; lingkungan nonlinguistik dari wacana. Menurut Moelyono dan Soenjono, konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode. Unsur-unsur itu berhubungan pula dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa, antara lain:
Latar : tempat dan waktu terjadinya percakapan.
Peserta : peserta percakapan yakni pembicara (penyapa) dan pendengar (pesapa)
3. Hasil : hasil dan tujuan percakapan
4. Amanat: bentuk dan isi amanat
5. Cara : cara percakapan dilakukan, dengan semangat, santai atau tergesa-gesa
6. Sarana : penggunaan bahasa lisan atau tulis; variasi bahasa yang digunakan
7. Norma : perilaku peserta percakapan
8. Jenis : mengacu pada kategori seperti sajak, teka-teki, kuliah, dan doa
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah segala sesuatu yang melingkupi teks. Teks dan konteks merupakan sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks.
Contoh : Tak jodoh
Sebuah awal yang begitu menyenangkan ulang tahun diucapkan oleh seorang cowok. Ucapan yang dikirim lewat Fb itu berupa ucapan ulang tahun namun berupa gambar. Sebagai seorang cewek yang baik aku pun membalas sebuah ucapan tersebut dengan terima kasih. Dengan berjalannya waktu kini kami menjadi seorang sahabat. Hari demi hari kita selalu mengirim pesan lewat jejaring sosial rasa suka dan sayang ini mulai muncul diantara kami hingga kami menjadi seoarng kekasih. Namun jelang beberapa bulan kami putus karena orangtuaku tak menyetujui karena mengerti pekerjaan Vino seorang polisi akirnya kami memutuskan untuk berpisah walaupun diantara kami saling menyangi.
Dari contoh diatas dapat dilihat dari latar tempat bahwa perkenalan antara tokoh aku dan Vino berkenalan lewat Fb, penuturnya yaitu aku dan Vino sedangkan bila ditinjau dari normanya kurang sopan hanya masalah pekerjaan orang tua tidak menyetujui anaknya untuk menjalin kasih dengan orang yang ia sayangi .
Ko-teks
Ko-teks adalah kalimat yang mendahului dan atau yang mengikuti di dalam wacana. (KBBI Offline) Dilihat berdasarkan makna dalam Kamus Linguistik (2011:137), koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Koteks adalah teks yang mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran dengan teks yang didampinginya. Keberadaan teks yang didampingi itu bisa terletak di depan (mendahului) atau di belakang teks yang mendampingi (mengiringi). Adapun koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf, dan bahkan wacana. Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau memperjelas makna.
Contoh penggunaan koteks adalah sebagai berikut.
Terima kasih
Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.
Contoh diatas merupakan peringatan bagi orang yang akan melewati jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks (teks penjelas) bagi teks lainnya.
Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya. Perhatikan contoh berikut ini.
Khoirul Huda adalah pemain bola dari pesela Lamongan. Keberadaan dia di persela paling lama diantara teman-temannya yang lain. Keberadaan di Lamongan yang lama membuat dikenal para suporte dari La Mania.
Kata dia, dan –nya yang terdapat pada kalimat kedua mengacu kepada Khoirul Huda pada kalimat pertama. Tafsiran itu didasarkan pada kalimat yang menyatakan bahwa Khoirul Huda adalah pemain bola dari pesela Lamongan. Jadi, Khoirul Huda pada kalimat itu menjadi koteks bagi dia dan -nya.
Daftar Pustaka
Mulyana. 2008. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang.
Prasayat Wacana
Prasayat Wacana
Kohesi
Kohesi adalah keterikatan antar unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yg ditandai antara lain konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. (kbbi ofline 1.3). Kohesi merupakan organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam setrata leksikal tertentu. (Gutwinsky, 1976: 26 dalam Tarigan (2009: 93).
Katagori Kohesi:
Kohesi Gramatikal
Pronomina (kata ganti)
Pronomina terdiri atas kata ganti diri, kata ganti penunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung.
Contoh:
Kata ganti diri
Saya, aku, kita dan kami
Contoh:
Pada hari Minggu pagi aku pergi ke Jombang untuk menjemput adik di pondok. Dengan kecepatan tinggi sampailah aku di pondok, sesampai disana adiku belum juga kelihatan akhirnya aku langsung masuk dan mencarinya ternyata dia belum pulang dari sekolahnya. Dan akhirnya aku menunggu sekitar 15 menit.
Kata ganti penunjuk
Ini, itu, sini, situ dll
Contoh:
Disini saya dilahirkan.
Dirumah ini saya dibesarkan.
Itu orang yang telah merebut kekasihku.
Kata ganti empunya
-ku, -mu, -nya, -kami, -kamu, -kalian.
Kata ganti penanya
Apa, siapa, mana
Apa yang terjadi padamu hingga kau menangis?
Siapa yang jatuh dari sepeda itu?
Mana orang yang memakai jilbab orenge tadi?
Kata ganti pengubung
Yang,
Kata ganti tak tentu
Siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.
Substitusi (panggantian)
Substitusi adalag proses atau hasil pengantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. (Kridalaksana, 1984:185). Substitusi meupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausa, atau campuran; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, melakukan hal yang sama.
Contoh:
Selain berusaha ke dokter, dia juga tak lupa berdo’a dan berikhtiar pada Allah.
Hari ini hari Minggu, mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok nenek di desa.
Elipsis
Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984:45 dalam Tarigan 2009: 97). Elipsis dapat pula dikatakan pengantian nol (Zero); sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis dapat pula dibedahkan atas elipsis nominal, elipsis verbal, elipsis klausa.
Contoh: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyususnan skripsi ini. Terima kasih. Kata terimah kasih disini merupakan elipsis bisa tidak diucapkan atau juga tidak ditulis. Seperti saya mngucapkan teria kasih.
Konjungsi
Konjugsi adalah yang dipergunakan untuk mengabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 1984:105 dalam Tarigan 2009:97)
Konjugsi dalam bahasa indonesia dapat dikelompokan atas:
Konjugsi adfersatif : tetapi, namun
Contoh :
Pada waktu itu aku mau datang menemuimu namun pada saat itu aku lagi sakit.
Adik boleh makan mie itu tetapi tidak boleh terlalu pedas.
Konjugsi klausal : sebab, karena
Contoh:
Hari Senin pagi diperkirakan akan hujan oleh sebab itu aku ke sekolah membawa payung.
Aku tidak bisa meninggalkanmu karena aku masih mencintaimu.
Konjugsi koordinatif : dan, tetapi,
Contoh:
Etis dan Fitri pergi ke pasar naik sepeda motor.
Anak Pak Tono itu cantik tetapi ia sombong.
Konjugsi koloratif : entah/entah, baik/maupun
Konjugsi subordinatif : sebelum, sesudah
Ibu berpesan sebelum makan harus berdo’a.
Ayah meminta sesudah pulang sekolah langsung segera pulang ke rumah.
Leksikal
Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosa kata yang serasi. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain:
Pengulangan (repetisi) kata yang sama: berfilsafat-berfilsafat
Berfilsafat di dorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kemetaan yang seakan tidak terbatas ini.
Sinonim : pahlawan – perjuangan
Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi Kesatuan Republik Indonesia.
Antonim : putra – putri
Dalam rangka ulang tahun sekolah, mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagai besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit.
Hiponim : pernyataan yang berpola umum – khusus. Contoh: angkutan darat – kereta api, bis dan bunga – mawar, melati, dahlia dan anggrek.
Ibu ke Jakarta naik angkutan darat seperti kereta api dan bus.
Setiap hari Anita menyiram bunga di taman, bermacam-macam di antaranya mawar, melati, dahlia dan anggrek.
Kolokasi : pernyataan yang berpola khusus umum. Contoh: buku, koran, majalah- media masa
Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut digabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak diminati dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa namanya menjadi terkenal.
Ekuivalensi (kesejajaran): belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pengajaran.
Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Tuti sebagai guruku selain mengajar mata pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia.
Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi dapat berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Contoh: HP (handpon)
HP merupakan alat komunikasih. Dengan adanya Hp memudahkan dalam berkomunikasi dengan sesama teman, saudara, ibu dan ayah. Hp semakin hari semakin canggih namun. Setiap ada tahun pasti ada sebuah web yang baru. Namun kecanggihan Hp seking kali disalah gunakan oleh para anak remaja biasanya digunakan untuk hal-hal yang tidak benar.
Topik
Topik adalah sesuatu yang dibicarakan dalam kalimat. Topik merupakan atau argumen dalam suatu proposisi. Paragraf biasanya memiliki satu topik atau tema utama, bahkan mungkin memiliki beberapa subtopik lagi. Dan secara keseluruhan, wacana memiliki banyak topik, salah satunya ada yang diutamakan, yaitu topik atau tema. Pada tingkat kalimat, istilah ini selalu merujuk pada masalah subjek kalimat dan secara tradisional dihubungkan dengan tatabahasa. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Kalimat bisa saja memiliki lebih dari satu topik, meskipun salah satunya diberikan penonjolan lebih dari yang lainnya, melalui struktuk sintaksis.
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut :
Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Judul
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersipat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah (lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Syarat-syarat pembuatan judul :
Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan.
Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangklaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.
Tema
Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis.
Syarat Tema yang Baik :
Tema menarik perhatian penulis. Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
Tema dikenal/diketahui dengan baik. Maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
Bahan-bahannya dapat diperoleh. Sebuh tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
Tema dibatasi ruang lingkupnya. Tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana. 2005. Kajian Wacana.Yogyakarta: Tiara Wacana.
Hany Uswatun Nisa. 2011. Kohesi Dan Koherensi Antarkalimat Dalam Wacana Berita Di Majalah Panjebar Semangat. FBS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Hidayat, Deddy. 2011. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Printing Cemerlang : Yogyakarta
Tarigan, Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa : Bandung
Kohesi
Kohesi adalah keterikatan antar unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yg ditandai antara lain konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. (kbbi ofline 1.3). Kohesi merupakan organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa kohesi adalah hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam setrata leksikal tertentu. (Gutwinsky, 1976: 26 dalam Tarigan (2009: 93).
Katagori Kohesi:
Kohesi Gramatikal
Pronomina (kata ganti)
Pronomina terdiri atas kata ganti diri, kata ganti penunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung.
Contoh:
Kata ganti diri
Saya, aku, kita dan kami
Contoh:
Pada hari Minggu pagi aku pergi ke Jombang untuk menjemput adik di pondok. Dengan kecepatan tinggi sampailah aku di pondok, sesampai disana adiku belum juga kelihatan akhirnya aku langsung masuk dan mencarinya ternyata dia belum pulang dari sekolahnya. Dan akhirnya aku menunggu sekitar 15 menit.
Kata ganti penunjuk
Ini, itu, sini, situ dll
Contoh:
Disini saya dilahirkan.
Dirumah ini saya dibesarkan.
Itu orang yang telah merebut kekasihku.
Kata ganti empunya
-ku, -mu, -nya, -kami, -kamu, -kalian.
Kata ganti penanya
Apa, siapa, mana
Apa yang terjadi padamu hingga kau menangis?
Siapa yang jatuh dari sepeda itu?
Mana orang yang memakai jilbab orenge tadi?
Kata ganti pengubung
Yang,
Kata ganti tak tentu
Siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.
Substitusi (panggantian)
Substitusi adalag proses atau hasil pengantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. (Kridalaksana, 1984:185). Substitusi meupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausa, atau campuran; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, melakukan hal yang sama.
Contoh:
Selain berusaha ke dokter, dia juga tak lupa berdo’a dan berikhtiar pada Allah.
Hari ini hari Minggu, mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok nenek di desa.
Elipsis
Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984:45 dalam Tarigan 2009: 97). Elipsis dapat pula dikatakan pengantian nol (Zero); sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis dapat pula dibedahkan atas elipsis nominal, elipsis verbal, elipsis klausa.
Contoh: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyususnan skripsi ini. Terima kasih. Kata terimah kasih disini merupakan elipsis bisa tidak diucapkan atau juga tidak ditulis. Seperti saya mngucapkan teria kasih.
Konjungsi
Konjugsi adalah yang dipergunakan untuk mengabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 1984:105 dalam Tarigan 2009:97)
Konjugsi dalam bahasa indonesia dapat dikelompokan atas:
Konjugsi adfersatif : tetapi, namun
Contoh :
Pada waktu itu aku mau datang menemuimu namun pada saat itu aku lagi sakit.
Adik boleh makan mie itu tetapi tidak boleh terlalu pedas.
Konjugsi klausal : sebab, karena
Contoh:
Hari Senin pagi diperkirakan akan hujan oleh sebab itu aku ke sekolah membawa payung.
Aku tidak bisa meninggalkanmu karena aku masih mencintaimu.
Konjugsi koordinatif : dan, tetapi,
Contoh:
Etis dan Fitri pergi ke pasar naik sepeda motor.
Anak Pak Tono itu cantik tetapi ia sombong.
Konjugsi koloratif : entah/entah, baik/maupun
Konjugsi subordinatif : sebelum, sesudah
Ibu berpesan sebelum makan harus berdo’a.
Ayah meminta sesudah pulang sekolah langsung segera pulang ke rumah.
Leksikal
Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosa kata yang serasi. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain:
Pengulangan (repetisi) kata yang sama: berfilsafat-berfilsafat
Berfilsafat di dorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kemetaan yang seakan tidak terbatas ini.
Sinonim : pahlawan – perjuangan
Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi Kesatuan Republik Indonesia.
Antonim : putra – putri
Dalam rangka ulang tahun sekolah, mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagai besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit.
Hiponim : pernyataan yang berpola umum – khusus. Contoh: angkutan darat – kereta api, bis dan bunga – mawar, melati, dahlia dan anggrek.
Ibu ke Jakarta naik angkutan darat seperti kereta api dan bus.
Setiap hari Anita menyiram bunga di taman, bermacam-macam di antaranya mawar, melati, dahlia dan anggrek.
Kolokasi : pernyataan yang berpola khusus umum. Contoh: buku, koran, majalah- media masa
Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut digabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak diminati dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa namanya menjadi terkenal.
Ekuivalensi (kesejajaran): belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pengajaran.
Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Tuti sebagai guruku selain mengajar mata pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia.
Koherensi
Koherensi adalah pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi dapat berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.
Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Contoh: HP (handpon)
HP merupakan alat komunikasih. Dengan adanya Hp memudahkan dalam berkomunikasi dengan sesama teman, saudara, ibu dan ayah. Hp semakin hari semakin canggih namun. Setiap ada tahun pasti ada sebuah web yang baru. Namun kecanggihan Hp seking kali disalah gunakan oleh para anak remaja biasanya digunakan untuk hal-hal yang tidak benar.
Topik
Topik adalah sesuatu yang dibicarakan dalam kalimat. Topik merupakan atau argumen dalam suatu proposisi. Paragraf biasanya memiliki satu topik atau tema utama, bahkan mungkin memiliki beberapa subtopik lagi. Dan secara keseluruhan, wacana memiliki banyak topik, salah satunya ada yang diutamakan, yaitu topik atau tema. Pada tingkat kalimat, istilah ini selalu merujuk pada masalah subjek kalimat dan secara tradisional dihubungkan dengan tatabahasa. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Kalimat bisa saja memiliki lebih dari satu topik, meskipun salah satunya diberikan penonjolan lebih dari yang lainnya, melalui struktuk sintaksis.
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut :
Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Judul
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersipat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah (lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Syarat-syarat pembuatan judul :
Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan.
Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangklaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.
Tema
Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis.
Syarat Tema yang Baik :
Tema menarik perhatian penulis. Dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
Tema dikenal/diketahui dengan baik. Maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
Bahan-bahannya dapat diperoleh. Sebuh tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
Tema dibatasi ruang lingkupnya. Tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana. 2005. Kajian Wacana.Yogyakarta: Tiara Wacana.
Hany Uswatun Nisa. 2011. Kohesi Dan Koherensi Antarkalimat Dalam Wacana Berita Di Majalah Panjebar Semangat. FBS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Hidayat, Deddy. 2011. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Printing Cemerlang : Yogyakarta
Tarigan, Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Angkasa : Bandung
HAKIKAT WACANA
HAKIKAT WACANA
Pengertian Wacana
Henry Guntur Tarigan (1987:27) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.
Fatimah Djajasudarma (1994:1) mengemukakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan, proposisi sebagai isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat atau wacana.
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa wacana adalah sebuah rentetan kalimat yang paling tinggi baik lisan maupun tulis yang memiliki bentuk dan makna saling berkaitan dari kalimat satu ke kalimat berikutnya sehingga membentuk makna yang serasi.
Contoh wacana:
Masa paling gawat bagi seorang mahasiswa adalah justru tahun pertama. Ia masih dalam masa transisi dari kehidupan sekolah menengah kepada kehidupan di perguruan tinggi. Karena itu, selama tahun pertama itu ia harus benar-benar menjaga diri supaya tidak drop out. Karena masuk ke perguruan tinggi merupakanperjuangan berat. Di samping itu ia perlu waspada jangan sampai kena pengaruh oknum-oknum yang belajar tidak serius. Ia hendaknya mencari mentor para senior yang sudah menekati akhir masa studi dengan presentasi akademi yang baik.
Ciri-ciri Wacana
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
Satuan gramatikal dalam hal ini unsur gramatikal sangat berpengaruh dalam membentuk sebuah wacana. Unsur wacana dapat berupa konjungsi, pelepasan, kesejajaran anatar bagian dll.
Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap. Wacana merupakan bagian tertinggi dari fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan yang terakhir yaitu wacana.
Untaian kalimat-kalimat. Wacana merupakan rentetan sebuah kalimat yang mempunyai unsur gramatikal, morfem, dan dijadikan sebuah klaimat.
Memiliki hubungan proposisi. Wacana merupakan sebuah rancangan usulan, ungkapan yang dapat dipercaya, disaksikan, disangkal, atau dibuktikan kebenarannya.
Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan. Wacana memilki hubungan kesinambungan dari kalimat satu ke kalimat lainnya. Artinya dalam wacana harus nyambung perkalimat agar mudah dipahami oleh pembaca.
Memiliki hubungan koherensi. Dalam wacana dikatakan koherensi bila pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
Memiliki hubungan kohesi. Dalam sebuah wacana kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan yang memiliki bentuk yang jelas yang dtandai dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan..
Medium bisa lisan maupun tulis. Wacana merupakan sebuah ukuran bahasa yang tinggi baik lisan maupun tulis
Sesuai dengan konteks. Dalam sebuah wacana harus memperhatikan situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode.
Jenis-jenis wacana
Wacana Lisan dan Tulis
Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Wacana lisan disini wacana yang melibatkan komunikasi langsung antara penutur dengan pendengar. Dalam wacana lisan, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan dan sebagainya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada pendengar.
Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat. Wacana tulisan pula ialah wacana yang disampaikan secara bertulis yang melibatkan hubungan antara penulis dengan pembaca. Komunikasi yang berlaku ialah komunikasi satu arah atau tidak langsung. Penulis tidak mendapat reaksi pembaca pada masa itu kerana penulis tidak berdepan dengan pembaca.Contoh wacana tulisan ialah rencana, akhbar, majalah, buku dan novel.
Merujuk pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91) tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.
Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.
Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta.
Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.
Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.
Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.
DAFTAR PUSTAKA
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Pengertian Wacana
Henry Guntur Tarigan (1987:27) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.
Fatimah Djajasudarma (1994:1) mengemukakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan, proposisi sebagai isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat atau wacana.
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa wacana adalah sebuah rentetan kalimat yang paling tinggi baik lisan maupun tulis yang memiliki bentuk dan makna saling berkaitan dari kalimat satu ke kalimat berikutnya sehingga membentuk makna yang serasi.
Contoh wacana:
Masa paling gawat bagi seorang mahasiswa adalah justru tahun pertama. Ia masih dalam masa transisi dari kehidupan sekolah menengah kepada kehidupan di perguruan tinggi. Karena itu, selama tahun pertama itu ia harus benar-benar menjaga diri supaya tidak drop out. Karena masuk ke perguruan tinggi merupakanperjuangan berat. Di samping itu ia perlu waspada jangan sampai kena pengaruh oknum-oknum yang belajar tidak serius. Ia hendaknya mencari mentor para senior yang sudah menekati akhir masa studi dengan presentasi akademi yang baik.
Ciri-ciri Wacana
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
Satuan gramatikal dalam hal ini unsur gramatikal sangat berpengaruh dalam membentuk sebuah wacana. Unsur wacana dapat berupa konjungsi, pelepasan, kesejajaran anatar bagian dll.
Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap. Wacana merupakan bagian tertinggi dari fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan yang terakhir yaitu wacana.
Untaian kalimat-kalimat. Wacana merupakan rentetan sebuah kalimat yang mempunyai unsur gramatikal, morfem, dan dijadikan sebuah klaimat.
Memiliki hubungan proposisi. Wacana merupakan sebuah rancangan usulan, ungkapan yang dapat dipercaya, disaksikan, disangkal, atau dibuktikan kebenarannya.
Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan. Wacana memilki hubungan kesinambungan dari kalimat satu ke kalimat lainnya. Artinya dalam wacana harus nyambung perkalimat agar mudah dipahami oleh pembaca.
Memiliki hubungan koherensi. Dalam wacana dikatakan koherensi bila pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
Memiliki hubungan kohesi. Dalam sebuah wacana kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan yang memiliki bentuk yang jelas yang dtandai dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan..
Medium bisa lisan maupun tulis. Wacana merupakan sebuah ukuran bahasa yang tinggi baik lisan maupun tulis
Sesuai dengan konteks. Dalam sebuah wacana harus memperhatikan situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode.
Jenis-jenis wacana
Wacana Lisan dan Tulis
Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Wacana lisan disini wacana yang melibatkan komunikasi langsung antara penutur dengan pendengar. Dalam wacana lisan, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan dan sebagainya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada pendengar.
Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat. Wacana tulisan pula ialah wacana yang disampaikan secara bertulis yang melibatkan hubungan antara penulis dengan pembaca. Komunikasi yang berlaku ialah komunikasi satu arah atau tidak langsung. Penulis tidak mendapat reaksi pembaca pada masa itu kerana penulis tidak berdepan dengan pembaca.Contoh wacana tulisan ialah rencana, akhbar, majalah, buku dan novel.
Merujuk pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91) tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.
Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.
Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta.
Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.
Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.
Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.
DAFTAR PUSTAKA
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Langganan:
Postingan (Atom)