Minggu, 21 Juni 2015

Teks, Ko-teks dan Konteks

Teks, Ko-teks dan Konteks

Pengertian
Teks
Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Dilihat dari tiga pengertian teks yang dikemukakan dalam Kamus Linguistik tersebut dapat dikatakan bahwa teks adalah satuan bahasa yang bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia.
Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Bentuknya bisa percakapan dan tulisan (bentuk-bentuk yang kita gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan). Hal penting mengenai sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari makna-makna.Memang makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain haruslah dikodekan dalm tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output), sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai terjadi kesalah pahaman. Kreteria yang dapat dikatakan teks yaitu:
Intertekstualitas: setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis
Intensionalitas: cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah. Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas (penerimaan informasi).
Informativitas: kuantitas dan kualitas informasi
Situasionalitas: situasi tuturan
 Contoh: Membangun Rumah Sakit
Pada masa sekarang ini banyak rumah sakit dibangun, baik itu rumah sakit negeri maupun swasta. Semarak berdirinya rumah sakit tersebut diperkirakan karena adanya izin pendirian rumah sakit yang relatif mudah. Rumah sakit negeri di daerah tertinggal mempunyai jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan swasta. Hal tersebut dapat dinalar karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya faktor finansial, sosial, asal-muasal adanya dokter, dan masih banyak lagi.
Dari contoh diatas termasuk teks dalam dikatakan kohesi memiliki kesatuan makna seperti kata ini, itu merupakan promonina kata ganti penunjuk, karena merupakan konjugsi klausal dan yang merupakan  kata ganti penghubung.

Konteks
Menurut Kridalaksana, konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa; lingkungan/ situasi tuturan berlangsung yang menumbuhkan makna pada ujaran; lingkungan nonlinguistik dari wacana. Menurut Moelyono dan Soenjono, konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode. Unsur-unsur itu berhubungan pula dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa, antara lain:
Latar : tempat dan waktu terjadinya percakapan.
Peserta : peserta percakapan yakni pembicara (penyapa) dan pendengar (pesapa)
3.      Hasil : hasil dan tujuan percakapan
4.      Amanat: bentuk dan isi amanat
5.      Cara : cara percakapan dilakukan, dengan semangat, santai atau tergesa-gesa
6.      Sarana : penggunaan bahasa lisan atau tulis; variasi bahasa yang digunakan
7.      Norma : perilaku peserta percakapan
8.      Jenis : mengacu pada kategori seperti sajak, teka-teki, kuliah, dan doa
               Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah segala sesuatu yang melingkupi teks. Teks dan konteks merupakan sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks.
Contoh : Tak jodoh

Sebuah awal yang begitu menyenangkan ulang tahun diucapkan oleh seorang cowok. Ucapan yang dikirim lewat Fb itu berupa ucapan ulang tahun namun berupa gambar. Sebagai seorang cewek yang baik aku pun membalas sebuah ucapan tersebut dengan terima kasih. Dengan berjalannya waktu kini kami menjadi seorang sahabat. Hari demi hari kita selalu mengirim pesan lewat jejaring sosial rasa suka dan sayang ini mulai muncul diantara kami hingga kami menjadi seoarng kekasih. Namun jelang beberapa bulan kami putus karena orangtuaku tak menyetujui karena mengerti pekerjaan Vino seorang polisi akirnya kami memutuskan untuk berpisah walaupun diantara kami saling menyangi.
Dari contoh diatas dapat dilihat dari latar tempat bahwa perkenalan antara tokoh aku dan Vino berkenalan lewat Fb, penuturnya yaitu aku dan Vino sedangkan bila ditinjau dari normanya kurang sopan hanya masalah pekerjaan orang tua tidak menyetujui anaknya untuk menjalin kasih dengan orang yang ia sayangi .

Ko-teks
Ko-teks adalah kalimat yang mendahului dan atau yang mengikuti di dalam wacana. (KBBI Offline) Dilihat berdasarkan makna dalam Kamus Linguistik (2011:137), koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Koteks adalah teks yang mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran dengan teks yang didampinginya. Keberadaan teks yang didampingi itu bisa terletak di depan (mendahului) atau di belakang teks yang mendampingi (mengiringi). Adapun koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf, dan bahkan wacana. Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana. Peranan koteks dalan sebuah wacana adalah mendukung atau memperjelas makna.
Contoh penggunaan koteks adalah sebagai berikut.
Terima kasih
Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.
Contoh diatas merupakan peringatan bagi orang yang akan melewati jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks (teks penjelas) bagi teks lainnya.
Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya. Perhatikan contoh berikut ini.
Khoirul Huda adalah pemain bola dari  pesela Lamongan. Keberadaan dia di persela paling lama diantara teman-temannya yang lain. Keberadaan di Lamongan yang lama membuat dikenal para suporte dari La Mania.
Kata dia, dan –nya yang terdapat pada kalimat kedua mengacu kepada Khoirul Huda pada kalimat pertama. Tafsiran itu didasarkan pada kalimat yang menyatakan bahwa Khoirul Huda adalah pemain bola dari  pesela Lamongan. Jadi, Khoirul Huda pada kalimat itu menjadi koteks bagi dia dan -nya.

Daftar Pustaka
Mulyana. 2008. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar