Minggu, 21 Juni 2015

Kedudukan Wacana

Kedudukan Wacana

Pengertian Wacana:
Wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, serta berkesinambungan dan dapat disampaikan sacara lisan ataupun tertulis. (Henry Guntur Tarigan, 1987:27). Macam-macam kajian wacana:
Tindak Tutur
Konsep mengenai tindak ujaran (Speech Acts) dikemukakan pertama oleh John L. Austin dengan bukunya How to Do Things with Words (1962).Austin adalah orang pertama yang mengungkapkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk melakukan tindakan melalui pembedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif.Ujaran konstantif mendeskripsikan atau melaporkan peristiwa atau keadaan dunia.Dengan demikian, ujaran konstantif dapat dikatakan benar atau salah.Sedangkan ujaran performatif, tidak mendeskripsikan benar salah dan pengujaran kalimat merupakan bagian dari tindakan.(Austin, 1962: 5).
Austin membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran, yaitu:
Lokusi, yaitu semata-mata tindak bicara, tindakan mengucapkan kalimat sesuai dengan makna kata atau makna kalimat. Dalam hal ini kita tidak mempermasalahkan maksud atau tujuan dari ujaran tersebut.Misal ada orang berkata “saya haus” artinya orang tersebut mengatakan dia haus.
Contoh: saya lapar artinya orang itu mengatakan dia lapar.
 Ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara mengenai maksud, fungsi dan daya ujaran yang dimaksud. Jadi ketika ada kalimat ”saya haus” dapat memiliki makna dia haus dan minta minum.
Contoh: saya lapar sekali sudah 2 hari tidak makan. dapat memiliki makna dia lapar dan minta makan.
 Perlokusi, adalah efek yang dihasilkan ketika penutur mengucapkan sesuatu. Misalnya ada kalimat ”saya haus” maka tindakan yang muncul adalah mitra tutur bangkit dan mengambilkan minum.
Contohnya: saya lapar berarti sebagai tindakan yang muncul dari mitra tutur mengambilkan makanan.
 Konteks Tempat
Tempat yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, tidak hanya menjadi bahan pertimbangan oleh anak, lebih dari itu, ada kalanya anak juga mendayagunakannya untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Konteks tempat yang didayagunakan oleh anak-anak meliputi tempat yang berada di sekitar anak ketika bertutur dan tempat lain yang tidak berada di sekitar anak yang bersangkut paut dengan tuturan yang diajukan tersebut.
Contoh: tindak tutur orang di pasar dengan tukang bejak berbeda gaya bicara serta bahasa yang digunakan juga berbeda
 Konteks Waktu
Konteks waktu yang melatari peristiwa tutur pada saat anak-anak bertutur, ada kalanya juga dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Konteks waktu yang didayagunakan oleh anak-anak tidak hanya dikaitkan dengan waktu sekarang, pada saat tuturan dilakukan, tetapi juga berkaitan dengan waktu tertentu di masa lalu dan di masa yang akan datang yang bersangkut paut dengan tuturan anak.

 Konteks Peristiwa
Tindak tutur yang dilakukan oleh anak-anak selalu terjadi dalam konteks peristiwa tertentu.Peristiwa-peristiwa tersebut tidak saja menjadi faktor yang cukup menentukan dalam peristiwa tutur yang terjadi, tetapi juga sering dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya. Anak-anak sering menggunakan konteks peristiwa ini untuk mempengaruhi pendapat atau pandangan mitra tuturnya sehubungan dengan tindak tutur yang dilakukannya. Konteks peristiwa yang didayagunakan oleh anak-anak untuk mendukung keberhasilan tuturannya dapat berupa peristiwa tertentu yang merugikan anak dan selayaknya mendapatkan kompensasi tertentu bagi anak.

 Konteks Suasana
Suasana yang melatari peristiwa tutur ketika anak-anak bertutur merupakan aspek cukup menentukan bagi tuturan anak.Lebih dari itu, ada kalanya anak-anak memanfaatkan suasana-suasana tertentu untuk mendukung keberhasilan tuturan yang dilakukannya. Suasana yang dimaksud adalah suasana-suasana yang nyaman dan menyenangkan yang terjadi dalam peristiwa tutur tertentu, terutama suasana hati yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh mitra tuturnya.
 Konteks Orang Sekitar
Ketika anak bertutur, ada kalanya terdapat orang lain yang berada di sekitar anak yang terlibat dalam peristiwa tutur tersebut, selain anak dan mitra tuturnya. Orang sekitar yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak saja berkaitan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak secara langsung ketika anak menyampaikan tuturannya, tetapi juga orang lain yang berada di tempat lain tetapi bersangkut paut dengan tuturan yang disampaikan oleh anak. Orang sekitar ini tidak saja berpengaruh terhadap peristiwa tutur yang terjadi, tetapi lebih dari itu kebberadaanya jiga sering dimanfaatkan oleh anak untuk mendukung keberhasilan tuturan agar dikabulkan oleh mitra tuturnya.
Sosiolinguistik interaksional
Definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini bukan definisi yang semestinya.Akan tetapi, definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional.Dalam bagian ini, Deborah mendeskripsikan gagasan dasar sosiolingustik interaksional.Deborah mengawali dengan kerja Gumperz dan kemudian beralih ke kerja Goffman.
 Etnografi komunikasi
Kajian sosiolinguistik yang tergolong mendapat perhatian cukup besar adalah kajian tentang etnografi komunikasi.Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).

DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar