Minggu, 21 Juni 2015

HAKIKAT WACANA

HAKIKAT WACANA

Pengertian Wacana
Henry Guntur Tarigan (1987:27) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.
Fatimah Djajasudarma (1994:1) mengemukakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan, proposisi sebagai isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat atau wacana.
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa wacana adalah sebuah rentetan kalimat yang paling tinggi baik lisan maupun tulis yang memiliki bentuk dan makna saling berkaitan dari kalimat satu ke kalimat berikutnya sehingga membentuk makna yang serasi.
Contoh wacana:
Masa paling gawat bagi seorang mahasiswa adalah justru tahun pertama. Ia masih dalam masa transisi dari kehidupan sekolah menengah kepada kehidupan di perguruan tinggi. Karena itu, selama tahun pertama itu ia harus benar-benar menjaga diri supaya tidak drop out. Karena masuk ke perguruan tinggi merupakanperjuangan berat. Di samping itu ia perlu waspada jangan sampai kena pengaruh oknum-oknum yang belajar tidak serius. Ia hendaknya mencari mentor para senior yang sudah menekati akhir masa studi dengan presentasi akademi yang baik.


Ciri-ciri Wacana
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
Satuan gramatikal dalam hal ini unsur gramatikal sangat berpengaruh dalam membentuk sebuah wacana. Unsur wacana dapat berupa konjungsi, pelepasan, kesejajaran anatar bagian dll.
Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap. Wacana merupakan bagian tertinggi dari fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan yang terakhir yaitu wacana.
Untaian kalimat-kalimat. Wacana merupakan rentetan sebuah kalimat yang mempunyai unsur gramatikal, morfem, dan dijadikan sebuah klaimat.
Memiliki hubungan proposisi. Wacana merupakan sebuah rancangan usulan, ungkapan yang dapat dipercaya, disaksikan, disangkal, atau dibuktikan kebenarannya.
Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan. Wacana memilki hubungan kesinambungan dari kalimat satu ke kalimat lainnya. Artinya dalam wacana harus nyambung perkalimat agar mudah dipahami oleh pembaca.
 Memiliki hubungan koherensi. Dalam wacana dikatakan koherensi bila pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam  teks. Dua buah kalimat menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.
Memiliki hubungan kohesi.  Dalam sebuah wacana kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan yang memiliki bentuk yang jelas yang dtandai dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan..
Medium bisa lisan maupun tulis. Wacana merupakan sebuah ukuran bahasa yang tinggi baik lisan maupun tulis
Sesuai dengan konteks. Dalam sebuah wacana harus memperhatikan situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode.
Jenis-jenis wacana
Wacana Lisan dan Tulis
Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Wacana lisan disini wacana yang melibatkan komunikasi langsung antara penutur dengan pendengar. Dalam wacana lisan, ekspresi wajah, nada suara, gerak badan dan sebagainya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu perkara kepada pendengar.
Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat. Wacana tulisan pula ialah wacana yang disampaikan secara bertulis yang melibatkan hubungan antara penulis dengan pembaca. Komunikasi yang berlaku ialah komunikasi satu arah atau tidak langsung. Penulis tidak mendapat reaksi pembaca pada masa itu kerana penulis tidak berdepan dengan pembaca.Contoh wacana tulisan ialah rencana, akhbar, majalah, buku dan novel.
Merujuk pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91) tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.
Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.
Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta.
Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.
 Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.
 Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.

DAFTAR PUSTAKA
Kushartanti, Multamia dan Lauder, Untung Yuwono. 2008. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah Djajasudarma. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan antar Unsur. Bandung: Eresco.
Henry Guntur Tarigan. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar