Minggu, 21 Juni 2015

Deiksis, Implikatur dan Paraanggapan

Deiksis, Implikatur dan Paraanggapan

Pengertian Deiksis
Deiksis berasal dari bahasa Yunani deikditos, yang berarti hal penunjukkan secara langsung. Dalam linguistik kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran.
Sebuah kata bersifat deiksis jika referen atau rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, atau saat bicara dan tempat dituturkannya kata itu. Bambang Kaswanti Purwo (dalam Chaniago, dkk:2001) membedakan deiksis menjadi tiga bagian, yaitu deiksis persona, deiksis ruang dan deiksis waktu.
Deiksis Persona
Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebut memiliki bentuk tunggal dan saya jamak.
Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku,  inyong/enyong/nyong dan dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia : kami, kita). Namun dalam pemaian antara aku dan saya itu berbeda. Aku di pakai pada saat informal namun berbeda dengan saya dipakai pada waktu formal seperti di  saat pidato, ceramah dan kuliah. Contoh: saya sampaikan terimah kasih kepada saudari Yuyun yang telah memberikan tanggapan terhadap kelompok satu.
Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia : engkau, kamu, anda, kau dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua). Contoh: anda begitu cantik memakai gaun pengantin ini.
Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia, beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal ditambahi dengan kata kabeh ((Indonesia : mereka). Contoh: ia akan terlihat lebih cantik bila mau memakai bedak sedikit.


Deiksis Ruang
Deiksis ruang mengacu mengacu pada penggambaran tempat atau keadaan tertentu yang berorientasi pada sudut pandang penutur atau pembicara. Bentuk-bentuk proposisi di, ke, dari dan pada, jika digabungkan dengan penunjuk tempat akan membentuk deiksis ruang, dengan catatan unsur rujukan yang berorientasi pada penutur juga terdapat dalam tuturan atau wacana. Contoh deiksis ruang menurut saya, lokasi ini sangat cocok untuk membuka tempat usaha.
Deiksis Waktu
Deiksis waktu mengacu pada penggambaran waktu dan bersifat temporal. Leksem waktu dikatakan deiksis apabila yang dijadikan patokan adalah penutur atau pembicara. Leksem waktu dapat dengan sendirinya bersifat deiksis atau dapat juga dibentuk dengan cara menggabungkan unsur-unsur lain pada leksem tersebut.
Contoh:
Kemarin saya terlambat sekolah.
Kita akan mengikuti PPL bulan depan.
Contoh (a) merupakan deiksis dan bersifat bebas. Sedangkan contoh (b) merupakan deiksis bentukan dari leksem ruang (depan) yang mengungkapkan pengertian waktu (bulan depan). Leksem waktu pagi, siang, sore, malam tidak merupakan deiksis. Karena perbedaan masing-masing leksem itu ditentukan berdasarkan patokan posisi planet bumi dan matahari. Contoh deiksis dalam wacana: Malam selalu terasa begitu dingin. Semilirnya hembusan angin berhasil membuatku menggigil. Mengenangmu menjadi rutinitas wajibku setiap malam. Ketika kau masih di sini bersamaku. Saat kau menjanjikan kebahagiaan untukku kelak. Tapi semua berlalu. Kau tak muncul tahun ini, bahkan mungkin tahun depan. Kau dan aku hingga malam ini menelan jauhnya jarak untuk sekedar mengungkapkan rindu. Hanya kebesaran-Nya menjadi harapanku.

Deiksis Wacana
Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan.
Contoh kalimat yang bersifat anafora: Baju keluaran terbaru itu harganya sangat mahal. Kata ‘itu’ merujuk pada ‘baju’ yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga berupa dieksis anafora. Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan. Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Di sini, digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.
Deiksis Sosial
Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu. Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.
Apakah saya bisa menemui Ibu hari ini?
Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.


Praanggapan (Presupposition)
Praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan (Brown dan yule, 1996). Asumsi tersebut ditentukan batas-batasannya berdasarkan anggapan-anggapan pembicara mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh lawan bicara tanpa tantangan. Sebagai ilustrasi perhatikan percakapan di bawah ini:
Contoh: Prabowo tuding pemerintah membela parpol. Belum tentu, bisa jadi parpolnya yang membela diri.
Praanggapan
Kalimat diatas termasuk kedalam  pranggapan. Dikatakan pranggapan karena kalimat satu menduga kalimat dua. Pada kalimat satu Prabowo menuduh pemerintah membelah parpol padahal bemum tentu pemerintah membelah parpol beneran bisa jadi parpol yang mebelah dirinya sendiri.
Dari contoh di atas dipahami bahwa apabila suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna, yang tidak dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu (Bambang Kaswanti Purwo, 1990).
IMPLIKATUR PERCAKAPAN
            Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir: Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.
Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud.
Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama.
Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.
            Grice (1957, juga dalam Steinberg & Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral. Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:
Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.
Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan.
Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai.
Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan.
Contoh: Harga naik ganggu industri.
Lebih terganggu lagi anggaran belanja para istri...
Kalimat diatas termasuk kedalam implikatut (makna tersirat) dimana secara tidak langsung bila industri naik maka para istri akan binggung membelanjaan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pokok semakin mahal.


DAFTAR PUSTAKA
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar